Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 11:51 WIB
Terhadang Arus, Tim Ekspedisi "Terdampar" di Sarang Bajak Laut
Iwan Santosa | wsn | Rabu, 18 November 2009 | 15:12 WIB
|
Share:

KOMPAS/ARYO WISANGGENI GENTHONG
Peserta Ekspedisi Garis Depan Nusantara naik ke kapal pinisi Cinta Laut sesaat sebelum kapal itu memulai pelayaran ekspedisi, Minggu (15/11). Selama tiga bulan mendatang, kapal yang diberangkatkan dari Pantai Losari Makassar, Sulawesi Selatan, itu menjelajahi dan mendata kondisi 28 pulau di wilayah timur Indonesia.

TERKAIT:

KALAO, KOMPAS.com — Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang sedianya akan mendarat di Pulau Bonerate di Taman Nasional Kepulauan Takabonerate, Sulawesi Selatan, terpaksa merapat di Pulau Kalao yang berada di seberang Bonerate.

Pulau Kalao sendiri adalah pulau berpenduduk yang pernah menjadi sarang bajak laut pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Bajak laut yang berasal dari Tobelo (Maluku Utara), Sulawesi, dan Mindanao (Filipina) itu sebagian menetap di Pulau Kalao. Kini anak cucu mereka menjadi penduduk di situ. Selain warga, di sekitar pulau juga banyak burung camar, terutama di atol kepulauan.

Para anggota tim dari organisasi pecinta alam Wanadri, komunitas Rumah Nusantara, serta wartawan Kompas, Iwan Santosa, dan fotografer, Lucky Pransiska, tiba di Pulau Kalao sekitar pukul 14.45 WIB.

Sebelumnya, tim mengisi perjalanan dengan memancing ikan. Mereka mendapatkan ikan tenggiri seberat 25 kilogram yang kemudian dimasak untuk santap siang. "Kami makan siang sambil menonton ikan terbang yang sering ditemui di sekitar kapal," ujar Iwan Santosa.

Menurut rencana, tim ekspedisi akan menuju Flores malam ini atau besok pagi, tergantung kondisi cuaca. Adapun jarak Pulau Kalao dengan Pulau Raja di Flores sekitar 97 mil atau sekitar 14 jam berlayar menggunakan kapal pinisi.