SELAYAR, KOMPAS.com - Situs-situs purbakala menjadi salah satu objek tujuan yang didokmentasikan tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara yang saat ini tengah menjelajahi pulau-pulau terluar di Indonesia Timur. Jika kemarin tim mengunjungi situs nekara perunggu di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, berikutnya situs menhir di Pulau Bonerate yang menjadi target.
Kapal pinisi Cinta Laut yang ditumpangi belasan anggota tim ekspedisi telah berangkat dari Pulau Selayar tadi pagi sekitar pukul 04.00 WIT. Perjalanan menuju Pulau Bonerate, yang termasuk dalam Taman Nasional Takabonerate itu diperkirakan menghabiskan waktu sampai setengah hari sehingga sampai tujuan sekitar pukul 16.00 WIT.
Saat ini, kapal yang ditumpangi tengah berlayar dekat Pulau Kayuadi dan Pulau Tanah jampe, yang merupakan lokasi ibukota Kecamatan Tanakonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar. Kondisi cuaca sendiri mendukung perjalanan siang ini, namun menurut Hidayat, Kapten Kapal Cinta Laut, cuaca saat ini tidak normal karena yang berembus masih angin barat. Menurutnya, bulan-bulan ini seharusnya sudah beralih angin timur.
Perjalanan dari Selayar ke Bonerate kali ini berkesan karena menurut cerita perairan yang dilalui merupakan daerah basis bajak laut pada abad ke-17 hingga abad ke-19. Wilayah kepulauan di sana memang dikenal menjadi salah satu lintasan perdagangan internasional sejak lama. penemuan nekara di Selayar adalah salah satu buktinya. Nekara terbesar di Asia Tenggara itu diperkirakan berusia 2000 tahun.
Sementara menhir di Pulau Bonerate berumur jauh lebih tua karena dari kebudayaan megalitikum. Keberadaan menhir ini menunjukkan kebudayaan telah berkembang di pulau-pulau tersebut sejak lama.
Namun, hasil penelusuran Kompas kini tak lagi ditemukan pembuat kain khas Selayar yang dahulu pernah dikenal di Nusantara. Kain yang khas dengan corak biru putih seperti kain Baduy di Banten itu sudah tak lagi dibuat di Pulau Selayar. Itulah salah satu bukti kebudayaan yang telah punah di sana.
Sebagian besar masyarakat Pulau Selayar saat ini menggantungkan hidupnya dari usaha perkebunan. Daerah tersebut menghasilkan komoditi emping melinjo, kacang mete, kopra, vanili, mangga, dan kapuk yang dikirim ke Makassar atau Surabaya.
