DENPASAR, KOMPAS.com - Masyarakat Pulau Dewata jenuh dengan pemadaman listrik bergilir dari PLN Denpasar dampak perawatan rutin PLTG Gilimanuk (130 Megawatt) sejak awal Oktober lalu. Alasan kejenuhan tersebut karena jadwal pemadaman siang dan malam tidak lagi sesuai dengan pemberitahuan sebelumnya yang diumumkan oleh PLN Denpasar.
Selain itu, pemadaman bergilir yang tak lagi sesuai jadwal itu merugikan masyarakat seperti rusaknya alat elektronik baik perumahan, kepentingan bisnis maupun perkantoran. "Meskipun kami mulai terbiasa dengan gelap, tetapi jika pemberitahuannya meleset tetap saja membuat tidak nyaman dan merugikan," kata Wayan Sardi, pemilik toko elektronik di Denpasar, Selasa (17/11).
Masyarakat lainnya juga menyatakan hal senada karena mereka tidak sempat melakukan persiapan seperti jadwal yang pernah teratur pada awal pemadaman Oktober lalu. Sementara sejumlah pertokoan, hotel dan restoran di Pulau Dewata tidak terlalu terganggu karena menyiapkan generator.
Humas PLN Denpasar Mastika mengelak jika perbedaan pengumuman jadwal pemadaman tersebut tidak disengaja. "Ini karena beban puncaknya berlebihan karena akhir-akhir ini cuaca di Bali panas sehingga masyarakat banyak menggunakan listrik untuk pendingin atau kipas angin," jelasnya.
Ia juga menyimpulkan masyarakat belum sadar menghemat setiap hari minimal 100 watt di rumahnya.. Mastika menambahkan pihaknya tengah mengupayakan perawatan PLTG Gilimanuk selesai akhir November lebih maju dari jadwal 6 Desember.
Beban puncak di Bali mencapai 493 megawatt. Sementara ketersediaan listrik hanya 562 megawatt. Sumber di Bali berasal dari PLTG Gilimanuk (130 MW), PLTG Pemaron (80 MW), PLTG Pesanggaran (152 MW) ditambah kabel bawah laut dari Jawa 200 MW.
Sementara pemadaman bergilir mendatangkan keuntungan mendadak bagi sejumlah pemasok lampu darurat dari Jawa. Rata-rata pemasok menjual lampu tersebut Rp 60.000 untuk ukuran kecil hingga Rp 150.000 ukuran besar per unit.


