Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 11:20 WIB
Kesurupan Dan Tekanan
| Jumat, 13 November 2009 | 16:34 WIB
|
Share:

Sejak sebelum bel sekolah berdering, Kamis (12/11), halaman SMP Negeri 3 Tridadi, Sleman, telah ramai. Siswa membentuk kelompok kecil dan menuruti semua instruksi permainan dari para psikolog. Ruang pertemuan di sudut sekolah pun telah dijejali siswa dan guru yang akan menerima siraman rohani.

Sementara itu, dua siswa tertunduk lesu mendengarkan wejangan polisi. Satu dari dua siswa yang duduk bak terdakwa ini bernama Slamet. Siswa kelas sembilan itu diduga menjadi sumber kesurupan. Setiap hari sejak Senin, Selasa, dan Rabu, 18 siswa, sembilan siswa, serta tiga siswa dan seorang guru berteriak histeris dan meronta-ronta karena kesurupan.

Seorang siswa yang kesurupan menyebut nama Slamet sebagai yang bisa meredam kesurupan massal. Hanya dengan petunjuk itu, guru dan polisi mencari Slamet yang ternyata bolos sekolah. Di tas Slamet, polisi menemukan cincin, batu akik, dan kertas rajah aksara Arab.

Dengan leher ditekuk tanpa senyum, Slamet bercerita menemukan aneka barang "aneh" itu dari lemari simbahnya. Semua benda tersebut disimpan dalam jahitan kain putih sebelum ditenteng ke mana pun Slamet pergi. "Saya penasaran dan iseng lalu saya bawa ke sekolah, tak tahu jadinya begini," katanya.

Peristiwa kesurupan tak hanya menghadirkan anak-anak seperti Slamet yang tertarik klenik. Ketika guru-guru kebingungan meredakan kesurupan massal, muncul pula siswa seperti Afin yang tiba-tiba menjadi tabib penyembuh kesurupan dengan mengurut perut korban. "Sering lihat jatilan, mereka menyembuhkan kesurupan lewat cara itu," ujar Afin.

Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Tridadi, Sleman, Brigadir Satu Sukirno menyatakan belum ada pasal untuk kesurupan massal. Meskipun demikian, Slamet sempat "diamankan" ke Polsek Tridadi untuk dimintai keterangan.

Psikolog dari Dinas Kesehatan Sleman, Diana Setyowati, menggambarkan, kesurupan atau histeria massal ibarat aliran listrik yang mudah nyetrum atau menjalar lewat alam bawah sadar yang dimiliki setiap orang. Alam bawah sadar yang seharusnya bisa dikendalikan itu bisa menguasai alam sadar atau mengendalikan kesadaran ketika seseorang terlalu banyak dijejali tekanan hidup atau persoalan. Agar terhindar dari "setrum" ketika ada kesurupan, psikolog menyarankan agar anak-anak atau siapa saja lebih rileks menghadapi tekanan dan persoalan hidup. "Sediakan sedikit waktu untuk keceriaan," ujar Diana.

Tidak cukup jelas, apa yang menekan siswa yang kesurupan. Namun, dimajukannya jadwal ujian nasional telah banyak dikeluhkan karena membuat siswa makin tertekan. Karena jadwal yang dibuat semena-mena, guru bekerja ekstra. Murid yang akan menghadapi ujian demikian juga. Karena UN dimajukan akhir Maret 2010, waktu efektif yang tersisa tinggal dua bulan. Banyak guru dan murid panik dan khawatir karenanya. (WKM)