Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 14:17 WIB
Musim Tanam di Banyumas Mundur
Mohamad Burhanudin | wah | Kamis, 12 November 2009 | 19:42 WIB
|
Share:

BANYUMAS, KOMPAS.com - Musim tanam di hampir semua lahan padi di Kabupaten Banyumas mundur akibat cuaca yang tak menentu. Kebutuhan pupuk di Kabupaten Banyumas diperkirakan bakal memuncak pada bulan Desember-Januari mendatang.

Semestinya, petani sudah mulai menanam padi pada awal November lalu untuk masa tanam musim rendeng, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Namun, curah hujan yang masih tipis hingga pertengahan November membuat belum semua petani memulai musim tanam hingga pertengahan bulan ini.

Para petani di daerah Kebasen dan Patikraja, Banyumas, sejak dua hari terakhir sebagian besar baru mulai menggenangi lahannya dengan air. Umumnya lahan-lahan tersebut adalah lahan irigasi. Namun, debit irigasi mengecil seiring masih rendahnya curah hujan. Hujan yang turun dua hari berturut-turut membuat mereka berani memulai masa tanam lagi.

"Airnya sudah lumayan banyak. Kami sudah bisa menyiapkan lahan dulu sebelum menebar benih. Seminggu lagi kami mulai menebar benih," kata Sudir (57), petani di Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Banyumas, Kamis (12/11).

Menurut Sudir, kebutuhan pemupukan baru akan dilakukan 25 hari setelah benih ditebar. Jadi, dia baru membutuhkan pupuk pada pertengahan Desember mendatang.

Di Desa Cindaga, petani yang sudah tebar benih baru satu orang, yakni Ponijan (50). Yang lain baru pada tahap mengairi lahan.

Suarti (47), pengecer pupuk Mitra Tani di Kecamatan Kebasen, mengatakan, permintaan pupuk hingga saat ini belum ada peningkatan. Jatah pupuk dari distributor belum ada peningkatan, yaitu 3 ton per minggu.

"Biasanya kalau masa tanam sudah mulai naik menjadi 5 ton. Tapi, sekarang masih belum. Mungkin baru bulan Desember," kata Suarti.

Suarti memperkirakan, kebutuhan pupuk pada Desember akan melonjak tajam. Bahkan akan lebih besar disbanding periode yang sama tahun 2008. Pasalnya, penanaman padi akan dilakukan secara serentak. Petani dengan irigasi teknis maupun tadah hujan sama-sama mengalami mundur masa tanam.

Sangudi (48), petani di Desa Karangrandu, Kecamatan Kebasen, yang kini tengah mengairi lahannya berharap pemerintah memberi bantuan sepenuhnya untuk pengadaan benih padi. Sebab, harga benih padi saat ini cenderung naik. Per kilogram benih padi dijual Rp 30.000. Padahal, pada musim tanam sebelumnya hanya Rp 25.000.