PALANGKARAYA, KOMPAS.com - Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) di wilayah itu selama tahun ini telah menyebabkan sebanyak 10 pasien meninggal dunia.
"Bila menemukan gejala demam berdarah, kami harap warga cepat mengantisipasi dengan mendatangi puskesmas sehingga risiko kematian berkurang," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng dr Don Leiden, Kamis (12/11).
Dalam data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, sepanjang tahun ini hingga Oktober lalu sudah 287 pasien terjangkit penyakit demam berdarah di 10 kabupaten/kota.
Dari jumlah kasus itu, sebanyak 10 pasien akhirnya meninggal dunia, diduga karena kurang cepat mendapat pertolongan medis.
Jumlah korban meninggal terbanyak tersebar di Kabupaten Kotawaringin Timur, lima dari 119 pasien yang terjangkit demam berdarah, disusul Kabupaten Seruyan dengan tiga meninggal dari 20 pasien.
Kota Palangkaraya dan Barito Utara terdapat satu korban meninggal dunia. Empat kabupaten lain, Murung Raya, Barito Selatan, Barito Timur, dan Pulang Pisau, hingga saat ini belum memberikan laporan resmi.
Don mengatakan, di sejumlah wilayah yang ditemukan korban meninggal dunia pihaknya telah melakukan epidemiologi dan pengasapan terbatas (fooging focus) sesuai permintaan masyarakat.
"Fogging baru dapat kami lakukan bila ada permintaan masyarakat dan memenuhi sejumlah kriteria tertentu," kata Don Leiden.
Penularan penyakit DBD sendiri, disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti, yang biasanya terjadi pada pagi atau siang hari, dan yang berpotensi adalah anak-anak dibawah usia 15 tahun.
Gejala-gejala penderita DBD yaitu mengalami demam cukup tinggi (38-40 derajat selama 2-7 hari), mengalami pendarahan, dan pembengkakan hati (hematomegali).
Penderita akan mengalami penurunan trombosit sampai 100.000 per milimeter kubik (mm3), lemas, mual, sakit di bagian perut dan kepala. Sakit pada otot dan persendian, disusul timbul bintik-bintik merah pada kulit.
