Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 23:26 WIB
Waspadai "Shock" pada Pasien DBD
Lusia Kus Anna | Anna | Sabtu, 7 November 2009 | 10:44 WIB
|
Share:

KOMPAS/Arum Tresnaningtyas
Seorang anak dirawat di RS kota Cimahi karena menderita DBD.

KOMPAS.com — Penderita demam berdarah dengue (DBD), terutama anak, rawan mengalami gangguan keseimbangan cairan. Hal ini bisa berakibat fatal, yakni terjadinya sindroma shock (renjatan) yang berujung pada kematian. Sindroma shock biasanya terjadi pada hari ketiga atau keempat sejak terjadinya demam. Padahal, pada saat ini demam biasanya mereda.

Infeksi virus dengue bisa menimbulkan perembesan plasma sehingga cairan akan memenuhi rongga sekitar jantung, paru, dan perut, sehingga terjadi pembengkakan. Di sisi lain, tubuh mengalami kekurangan cairan. Infeksi dengue yang tidak menimbulkan perembesan plasma disebut dengan demam dengue. Jenis ini relatif ringan dan tidak mengancam jiwa.

Tanda-tanda shock yang perlu diperhatikan adalah pasien gelisah, terjadi penurunan kesadaran yang ditandai dengan pasien tampak mengantuk dan ingin tidur terus, tidak nafsu makan, sakit perut, tidak nafsu makan, dan jarang buang air kecil.

Jika shock terjadi berkepanjangan tanpa ada tindakan medis bisa mengakibatkan kematian. Untuk mencegah shock, penderita DBD harus diberi cukup cairan, baik lewat mulut maupun infus.