BOYOLALI, KOMPAS.com — Pemerintah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada November 2009 memberangkatkan sebanyak 45 kepala keluarga untuk bertransmigrasi ke sejumlah lokasi di empat provinsi.
"Mereka mengikuti program transmigrasi umum dan transmigrasi swakarsa mandiri," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Sosial Pemkab Boyolali Sugianto, di Boyolali, Sabtu (7/11).
Ia menjelaskan, 10 KK menempati lokasi transmigrasi Sungai Gelam, Muaro, Jambi, 15 KK Lubuk Talang, Muko-Muko, Bengkulu, 15 KK Sungai Sepeti, Kayong Utara, Kalimantan Barat, dan lima KK Mahaluna, Sulawesi Selatan.
Mereka, katanya, mayoritas berasal dari Kecamatan Wonosegoro, Juwangi, Kemusu, dan Nogosari. "Kami sebetulnya memilih daerah lokasi penempatan transmigran di Jambi dan Bengkulu di Pulau Sumatera. Tapi kini ada Sulsel dan Kalbar," katanya.
Ia mengatakan, lokasi itu potensial untuk pengembangan perkebunan. Pihaknya telah memberikan pelatihan keterampilan dan sosialisasi tentang kondisi lahan dan lingkungan sosial kepada para calon transmigran.
Pelatihan keterampilan untuk mereka, katanya, antara lain pertukangan, kerajinan, serta pembuatan camilan dan minuman dengan bahan baku lokal. Pada 2008, katanya, pihaknya memberangkatkan 125 KK untuk bertransmigrasi ke sejumlah lokasi di luar Pulau Jawa.
"Tahun ini jumlahnya turun karena keterbatasan anggaran," katanya. Ia menyebutkan, anggaran Pemkab setempat untuk pengiriman transmigran pada 2008 sebanyak Rp 792 juta, sedangkan pada 2009 sebanyak Rp 292 juta.
Ia mengemukakan, minat masyarakat setempat mengikuti program transmigrasi relatif tinggi. "Masyarakat selalu menanyakan tentang program itu," katanya.
Mereka, katanya, tertarik mengikuti program itu karena berpeluang besar meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Keterbatasan lapangan kerja di daerah itu, katanya, juga menjadi pendorong warga untuk bertransmigrasi.
"Mereka ingin bertani, tetapi tidak memiliki lahan sehingga bertekad ikut program ini," katanya.


