Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 01:55 WIB
Setengah Abad Sarwany Taklukkan Harimau
Josephus Primus | primus | Jumat, 6 November 2009 | 21:50 WIB
|
Share:

BANDA ACEH, KOMPAS.com — Tubuh kurus terbalut kemeja lusuh dan celana panjang kain itu terlihat kontras di antara para ranger dan polisi hutan (polhut) yang berseragam menikmati tontonan gajah dimandikan di sungai.
   
Sosoknya bersahaja layaknya pria berusia lanjut pada umumnya. Namun, di balik kesederhanaannya, Sarwany Saby (72) adalah sosok yang mampu menaklukkan si raja hutan.
   
Sejak usia 18 tahun, Sarwany muda sudah mulai ikut orangtuanya masuk hutan untuk menaklukkan harimau yang mengganas. Berbekal ilmu yang diajarkan orangtua, ia mulai turun sendiri menangani harimau sekitar tahun 1960 jika diminta masyarakat yang resah akibat gangguan hewan tersebut.
   
Hingga saat ini sudah 100 lebih harimau yang berhasil ditanganinya. "Ada syarat-syarat dan doa tertentu untuk mengusir harimau yang saya pelajari dari orangtua," ujar Sarwany.
   
Tugas menangani harimau dilakukannya hingga hampir ke seluruh Aceh. Di tempat ada harimau mengamuk mengganggu warga, ia pasti turun membantu tanpa mematok bayaran. Konflik harimau dengan manusia cukup tinggi di provinsi paling barat Sumatera itu. "Saya tidak menetapkan bayaran. Selama saya masih mampu, akan saya bantu masyarakat karena saya melakukannya bukan karena terpaksa," katanya.
   
Ia mengaku hobi menaklukkan sang raja hutan. Untuk profesi yang unik tersebut mutlak harus memiliki keberanian. Namun, tidak boleh takabur. Selain itu, ia juga mengerti taktik dan bahasa isyarat harimau.
   
Sepanjang kariernya, pria asal desa Sawang Teube Kecamatan Kaway XIV, Kabupaten Aceh Barat itu punya kesan tersendiri saat menangani harimau yang sudah pernah menerkam manusia.
   
Sarwany turun tangan menangani harimau yang sudah menerkam enam orang di Peulumat Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan setelah empat pawang harimau tidak berhasil menangani amukan si raja hutan. "Saya berkesan dengan penanganan harimau yang sudah menerkam manusia di Aceh Selatan karena lebih sulit dan ganas dibandingkan harimau yang hanya memangsa ternak," ujarnya.
   
Menurut pria yang hanya sempat mengecap pendidikan sampai kelas dua sekolah rakyat itu, setelah berhasil menangani harimau pemangsa manusia pada 2007, ia diangkat oleh Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) sebagai pawang harimau untuk seluruh Aceh.
   
Di usianya yang sudah di atas setengah abad, ia telah menurunkan keterampilannya kepada anak-anaknya sebab ia mengaku sudah terlalu tua untuk bisa terus menaklukkan harimau.
   
Ayah 14 anak, lima di antaranya meninggal, itu sangat berharap bisa menunaikan rukun Islam kelima, ibadah haji. Namun, ia masih terkendala biaya sehingga pria yang biasanya bercocok tanam itu berharap Pemerintah Provinsi Aceh dapat membantu "meringankan" jalan ke Tanah Suci. 

Sumber :
Ant