KUPANG, KOMPAS.com - Kualitas hidup masyarakat, terutama kaum perempuan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai masih rendah, karena terjebak dalam pola budaya lokal yang cenderung menomor satukan kaum laki-laki.
Pernyataan itu disampaikan Wali Kota Kupang, Daniel Adoe, pada acara pelatihan peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan, di Kupang, Jumat (6/11).
Kualitas hidup masyarakat di Kota Kupang perlu terus ditingkatkan dengan upaya serius khusus terhadap perlindungan bagi kaum perempuan.
Jika dicermati, saat ini masih terus terjadi kekerasan terhadap kaum perempuan, perlakuan diskriminasi, peminggiran oleh kultur global dan juga kultur lokal.
Dalam kondisi ini, posisi kaum perempuan dan kualitas hidup masyarakat menjadi semakin rendah, karena masyarakat pun terjebak dengan berbagai pola budaya lokal yang cenderung menomor-duakan kaum perempuan.
Selain itu, masyarakat Kota Kupang tidak membudayakan pola hidup sehat, kendati kesehatan merupakan harta yang tidak ternilai harganya.
Akibatnya, kualitas perempuan pun merosot. Padahal, kualitas suatu masyarakat, sangat ditentukan oleh kualitas perempuan, sejak hamil.
Sudah saatnya perhatian terhadap berbagai peristiwa sosial yang melibatkan kaum perempuan di daerah ini dilakukan secara sungguh-sungguh oleh semua komponen masyarakat.
Karena kekerasan terhadap kaum perempuan, berimplikasi pada berbagai segi kehidupan. Implikasi itu antara lain, menurunnya kesejahteraan masyarakat.
Bangunan sosial masyarakat Kota Kupang, menurut Adoe, saat ini cenderung rapuh, karena banyak orang pintar yang tidak sehat dan banyak orang sehat yang tidak pintar.
Dia berharap, pelatihan tersebut, mampu memberikan sumbangan nyata untuk mengangkat derajat hidup masyarakat khususnya kaum perempuan, demi peningkatan kualitas masyarakat di Kota Kupang, terutama kaum perempuan, yang hingga saat ini belum mendapat perlakuan proporsional.
Stigma menomorsatukan laki-laki dalam hirarki sosial, harus diubah untuk mewujudkan kesetaraan yang adil antara lak-laki dan perempuan.


