Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 10:43 WIB
Tahun Depan Bali Siapkan Rp 2,4 Miliar untuk Rabies
Josephus Primus | primus | Rabu, 4 November 2009 | 18:44 WIB
|
Share:

TABANAN, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Bali pada 2010 menyiapkan dana Rp2,4 milyar untuk penanggulangan rabies di pulau yang menjadi tujuan wisata internasional itu.
    
"Dana tersebut bersumber dari APBD yang khusus dianggarkan untuk penanggulangan rabies. Ini berasal dari pos dana tak terduga," kata Kepala Dinas Kesehatan Bali dr Nyoman Sutedja di sela-sela pelaksanaan Hari Rabies Se-Dunia di Tabanan, Rabu (4/11).
    
Ia mengakui, selama ini tidak ada halangan dalam ketersediaan anggaran bagi upaya penanggulangan penularan rabies di Bali. Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga diakui selalu cepat dan tanggap apabila terjadi kekurangan anggaran. "Proses pencairan terhadap anggaran penanggulangan rabies juga tidak terlalu lama sehingga proses upaya penanggulangan dapat dengan cepat dilakukan," katanya.
    
Ia menyebutkan, khusus untuk tahun ini Pemerintah Provinsi Bali telah menghabiskan dana mencapai Rp 8 milyar, khusus untuk penanggulangan rabies. Dana tersebut termasuk hingga pelayanan korban rabies di rumah sakit dan pembelian vaksin antirabies bagi orang yang digigit anjing.
    
Dia mengakui, dalam beberapa minggu terakhir beberapa kabupaten dan kota di Bali mengalami kekurangan vaksin antirabies (VAR). Namun dipastikan kekurangan VAR ini terjadi bukan akibat keterbatasan dana dari pemerintah untuk membeli vaksin, tetapi akibat keterbatasan pasokan dari distributor.  Soalnya, selama ini Indonesia masih mengimpor VAR dari luar negeri.

Pemerintah daerah memiliki persediaan dana, namun vaksin tersebut yang tidak ada. Hal itu karena pabrik vaksin tersebut ada di Perancis.
    
Ia menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan VAR di Bali, pemerintah daerah kini sedang mengalokasikan pembelian sekitar 8.400 vial VAR. Namun, 8.400 vial VAR itu masih dalam proses pengadaan atau pemesanan.  Diharapkan pengadaan 8.400 vial VAR ini cukup untuk memenuhi kebutuhan vaksin selama Oktober 2009 hingga Januari atau Februari 2010.
    
Sementara Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama merekomendasikan kepada Bali untuk mengembangkan rabies center di seluruh kabupaten dan kota.  "Pembangunan rabies center ini bertujuan untuk mempercepat penanggulangan rabies di Bali dan untuk mewujudkan Bali bebas rabies pada 2012. Selain itu juga bertujuan untuk lebih cepat memberikan pertolongan kepada korban gigitan anjing dan meminimalisasi korban meninggal akibat rabies," katanya.
    
Ia juga merekomendasikan kepada seluruh kabupaten dan kota di Indonesia untuk membentuk rabies center. Apalagi beberapa daerah di Indonesia termasuk daerah penularan dan beberapa daerah lainnya merupakan daerah rawan penularan rabies.
    
"Rabies center tersebut juga diharapkan menyiapkan vaksin antirabies untuk mempercepat pelayanan bagi korban gigitan anjing. Berdasarkan data Departemen Kesehatan dari rata-rata kasus gigitan anjing di 24 propinsi tertular rabies selama 2005 hingga 2009 mencapai 18.400 kasus," katanya.
    
Kasus tertinggi terjadi di Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.

 

Sumber :
Ant