KUALA LUMPUR, KOMPAS.com- Mayoritas pembeli minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dari Eropa ternyata justru mengingkari komitmen pembelian minyak sawit bersertifikasi dari Roundtable on Suistanable Palm Oil. Ini terungkap dalam hasil penilain World Wildlife Fund International terkait pembelian CPO oleh perusahaan-perusahaan besar di Eropa.
Menurut Senior Policy Officer for Food and Agriculture WWF International Adam Harrsion, lembaganya menyebar kartu penilaian terhadap 59 perusahaan utama di Eropa yang menjadi pembeli CPO. Sebagian di antara perusahaan tersebut merupakan anggota Roundtable on Suistanable Palm Oil (RSPO). Hanya 10 perusahaan yang bisa dikategorikan WWF memiliki komitmen menggunakan minyak kelapa sawit bersertifikat RSPO.
Adam mengatakan, ke-10 perusahaan ini menunjukkan ke pesaing mereka, bahwa bisa bertanggung jawab dalam menggunakan minyak kelapa sawit. Namun meski demikian, predikat 10 perusahaan terbaik ini tetap harus memenuhi target mereka untuk hanya menggunakan minyak kelapa sawit bersertifikat.
Ke-10 perusahaan yang mendapatkan penilaian terbaik ini antara lain Sainsburys, Marks & Spencer, Migros, Youngs/Findus, Unilever, Cadbury, The Body Shop, L Oreal, Asda dan Coop Switzerland.
Adam mengatakan, publikasi WWF terkait penilaian terhadap pembeli CPO dari perusahaan Eropa, untuk menunjukkan mereka seharusnya bisa berkompetisi. "Harus diakui, kebanyakan dari perusahaan Eropa yang kami nilai masih gagal dalam menggunakan minyak kelapa sawit berkelanjutan. Tetapi hal tersbeut justru akan menjadikan penilaian ini sebagai bahan mereka berkompetisi, karena ini kami lakukan secara transparan," ujar Adam di Kuala Lumpur, Senin (2/11).
Terdapat 28 perusahaan yang masuk kategori kedua, yakni mereka yang masih membutuhkan komitmen penuh menggunakan minyak k elapa sawit bersertifikat. Rata-rata perusahaan yang masuk kategori ini sudah menjadi anggota RSPO, sebagian di antaraya baru bergabung. Di antara perusahaan yang masuk kategori kedua adalah United Biscuits, Carrefour, Reckit Benckiser, dan Nestle.
Adam menyatakan, WWF telah meminta pembeli minyak sawit di Eropa untuk berkomitmen terhadap kriteria RSPO sejak tahun 2003. "Penilaian ini untuk mengingatkan kembali akan komitmen mereka terhadap minyak kelapa sawit berkelanjutan," ujarnya.
Perusahaan yang masuk kategori ketiga dan keempat, semuanya bukan menjadi anggota RSPO. Sebagian perusahaan yang masuk kategori ketiga dianggap memiliki kebijakan untuk membeli minyak kelapa sawit bersertifikat, meski saat dilakukan penilaian tak ada satu pun perusahaan yang membeli minyak kelapa sawit bersertifikat. Di antara perusahaan yang masuk kategori ketiga adalah Danone.
Wakil Presiden II RSPO Derom Bangun mengakui, penilaian WWF menunjukkan masih rendahnya komitmen pembeli di Eropa menaati prinsip-prinsip produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan seperti yang tertuang dalam kriteria RSPO.
Derom mengatakan, masih banyak produsen minyak kelapa sawit bersertifikat, yang belum mendapatkan nilai tambah atau biasa disebut harga premium dari produk mereka, akibat keengganan pembeli Eropa menggunakan minyak kelapa sawit bersertifikat. "Mungkin produsen minyak kelapa sawit bersertifikat baru bisa mendapatkan keuntungan 1,5 persen dari harga normal CPO di pasar dunia," katanya.
