Senin, 24 November 2014

News / Regional

Mungkin Ada Kapal Besar di Dasar Bengawan Solo

Jumat, 30 Oktober 2009 | 10:59 WIB

NGAWI, KOMPAS.com — Suparlan (50) dan Sukiran (27), yang merupakan ayah dan anak warga Dusun Planggarem, Desa Planglor, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, menemukan sebuah jangkar lengkap dengan rantai kuno yang diduga merupakan benda bersejarah peninggalan zaman Belanda.

Suparlan mengatakan, jangkar berikut rantai yang memiliki panjang 19 meter tersebut pertama kali ditemukan saat sedang mengeruk pasir di dasar Bengawan Solo pada Agustus lalu, sedalam dua meter.

"Jangkar itu menancap di dasar sungai. Setelah diangkut, ternyata jangkar tersebut terikat dengan rantai besar. Setelah dilakukan pengerukan ke dasar sungai, ternyata rantai tersebut juga terikat pada sebuah benda besar menyerupai meja. Secara pasti kami belum tahu itu benda apa. Namun, kami menduganya adalah kapal," ujar Suparlan.

Menurut dia, karena benda yang terikat pada rantai tersebut cukup besar, pihaknya mengalami kesulitan untuk mengangatnya ke permukaan air.

Suparlan dan Sukiran mengaku, pengangkatan jangkar dengan berat sekitar 50 kilogram tersebut memakan waktu sekitar satu bulan.

Jangkar dan rantai tersebut diangkat dengan bantuan enam pemuda desa, dan juga menggunakan dua derek berkekuatan 10 kilogram.

Setelah sebulan dilakukan pengerukan dan penyedotan pasir dengan menggunakan mesin diesel dan katrol, akhirnya rantai pengait patah. Maka, pencarian dengan dugaan kuat menemukan kapal bersejarah pun diakhiri.

"Saat rantai pengait terlepas dari benda yang diduga kapal tersebut, sempat timbul hentakan yang terasa seperti gempa kecil. Warga desa sekitar sempat panik akibat guncangan kecil tersebut. Takut terjadi apa-apa, makanya pencarian dihentikan," terang Suparlan.

Selain menemukan jangkar dan rantai, Suparlan juga menemukan satu sendok yang terbuat dari kuningan dan satu keping kuningan yang diduga tutup arloji, berlogo kuda dengan tulisan Alpine dan angka 3446 di sekitar lokasi penemuan.

Kini benda-benda yang diduga bersejarah tersebut untuk sementara hanya ia simpan. Sesekali banyak warga desa sekitar yang berkunjung untuk melihat benda temuannya. Suparlan mengaku sudah ada dua orang dari luar kota yang menawar benda temuannya itu.

"Jangkar dan rantai temuan saya tersebut ditawar seharga Rp 35.000 per kilogramnya. Penawar tersebut mengaku berasal dari Sragen, Jawa Tengah. Tapi, saya menolaknya. Pasalnya, saya berharap masih bisa menemukan benda yang diduga kapal bersejarah yang masih terpendam di dasar Bengawan Solo tersebut," katanya.

Koordinator Museum Trinil Ngawi, dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Timur, Endra Waluyo, mengatakan belum dapat memberikan penjelasan banyak terkait temuan jangkar dan rantai kuno ini.

"Terus terang, kami belum dapat berkomentar banyak, apakah jangkar dan rantai kuno tersebut termasuk benda cagar budaya atau tidak. Hal ini karena tim kami belum menuju lokasi untuk melihat langsung benda-benda yang ditemukan," katanya.

Untuk menentukan bahwa suatu benda termasuk dalam cagar budaya atau bersejarah, hal itu harus melalui penelitian lebih dahulu. Namun, pihaknya berpendapat bahwa jika ditemukan jangkar dan rantai, maka kuat dugaan tak jauh dari lokasi pasti ada kapal.

Keberadaan temuan jangkar dan rantai di sepanjang aliran Bengawan Solo tersebut diduga memiliki katian terhadap keberadaan benda-benda lain berbau peninggalan Belanda yang hingga kini ada di Ngawi. Salah satunya adalah Benteng Pendem di Ngawi yang dibangun pada tahun 1828-1829.

"Bisa jadi, aliran Bengawan Solo dulunya memang dijadikan sebagai jalur transportasi dagang oleh pedagang Belanda atau VOC. Namun guna menguak hal itu semua, dibutuhkan suatu penelitian lebih lanjut," katanya.


Editor : bnj
Sumber: