MALANG, KOMPAS.com - Tidak adanya kemampuan baik dalam hal anggaran dan tenaga untuk merawat temuan-temuan sejarah di Kota Malang, menjadikan sejumlah temuan sejarah seperti arca dan prasasti banyak dititipkan kepada sejumlah instansi oleh Pemerintah Kota Malang.
"Kota Malang sebenarnya memiliki Museum Mpu Purwa yang selama ini merawat temuan-temuan sejarah seperti arca dan prasasti. Namun karena tempatnya terbatas, maka puluhan temuan sejarah serupa banyak yang dititipkan ke sejumlah tempat," tutur Wali Kota Malang, Peni Suparto, Kamis (29/10) di Malang.
Penitipan benda-benda bersejarah itu menurut Peni lebih karena agar ada pihak yang mampu merawat benda-benda peninggalan sejarah tersebut. "Dalam penitipan itu tentu saja ada perjanjiannya bahwa ketika suatu saat diambil oleh pemerintah, maka harus diberikan," imbuh Peni.
Selama ini Peni menuturkan bahwa anggaran Pemkot Malang tidak cukup banyak untuk melacak dan merawat seluruh temuan-temuan sejarah itu. Anggaran perawatan temuan sejarah dari Pemkot Malang selama ini menurut Peni sudah termasuk dalam anggaran operasional Museum Mpu Purwa.
Beberapa contoh arca atau prasasti yang dititipkan perawatannya misalnya arca Buddha yang disimpan di Universitas Gajayana (yang sengaja dijadikan ikon kampus itu), tujuh inskripsi (prasasti berbentuk buku) sejarah, yaitu sebuah Al Quran (berdasar salah satu bagian tulisannya diperkirakan buatan Tunisia tahun 1922), Babat Tanah Jawi, dan buku-buku berbahasa Jawa Kuno, 15 keropak atau prasasti dari ron tal (daun tal), tujuh buah tamra (prasasti dari lempeng tembaga)--yang menurut ahli sejarah dikenal sebagai Prasasti Cunggrang B , semuanya tersimpan rapi di Biara Karmel Kayu Tangan (di kompleks Gereja Kayu Tangan), dan sebagainya.
Selain arca-arca yang dirawat baik dalam penitipannya itu, juga masih banyak situs dan arca-arca itu yang tidak terawat baik. Arca Stambha Singa, misalnya, teronggok di tengah tegalan Desa Merjosari dengan perawatan seadanya.


