Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 10:08 WIB
Tiga Siswa SMKN 2 Pengasih Kulon Progo Kerasukan
Yoga Putra | wah | Rabu, 28 Oktober 2009 | 16:39 WIB
|
Share:

KULON PROGO, KOMPAS.com - Tiga siswa SMKN 2 Pengasih, Kulon Progo, DIY, kerasukan sejak awal pekan ini. Namun, pihak sekolah tidak mengakuinya. Siswa yang kejang dan menangis histeris dikatakan kelelahan setelah berlatih baris-berbaris.

Menurut keterangan sejumlah siswa SMKN 2 Pengasih, peristiwa kerasukan terjadi sejak Senin (26/10). Franky (16), siswa kelas I, mengatakan dua siswa kerasukan di lapangan basket hari Senin. Menyusul kemudian, seorang siswa kesurupan Rabu siang kemarin.

Siswa yang terakhir kerasukan bernama Anjar Susanti (16), kelas I. Anjar tiba-tiba berteriak dan menangis setelah berlatih baris-berbaris di lapangan basket, sekitar pukul 10.00. Anjar yang tidak sadarkan diri langsung dibawa ke ruang kesehatan dan dirawat hingga siuman sekitar satu jam kemudian.

Seorang petugas kesehatan sekolah yang menolak menyebutkan namanya mengatakan Anjar hanya kelelahan. Ia meminta wartawan yang mendatangi sekolah untuk membatalkan liputan dengan alasan peristiwa itu tidak pantas menjadi bahan pemberitaan.

Namun, pihak sekolah akhirnya buka mulut saat tim Kepolisian Sektor Pengasih dan rombongan DPRD Kulon Progo datang, sekitar pukul 12.00. Polisi segera memanggil ayah Anjar, Sarjono (50), warga Desa Sukoreno, Sentolo, untuk datang menjemput anaknya.

Kepada wartawan, Sarjono mengaku tidak menerima pemberitahuan apa pun dari sekolah terkait kejadian yang menimpa putrinya. Ia juga menolak pendapat tenaga kesehatan yang menyebutkan kondisi Anjar lemah.

"Saat pamit berangkat sekolah dia (Anjar) sehat dan ceria. Lagipula, dia juga tidak punya penyakit kambuhan," ungkap Sarjono yang bekerja sebagai karyawan swasta.

Saat dibawa pulang, kondisi Anjar lemah dan tidak bisa bicara banyak. Ia hanya termenung dan menjawab pertanyaan polisi dengan cara mengangguk dan menggelengkan kepala.

Anggota DPRD dari Fraksi Partai Amanat Nasional Kasdiyono kemudian mendesak pihak sekolah untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Setelah dipaksa, akhirnya Koordinator Pembina OSIS Edy Wuryanto mengatakan kerasukan terjadi setelah pagar belakang sekolah dibongkar, pekan lalu.

"Namun, semua anak yang kerasukan sudah pulih. Kami juga akan meningkatkan pendampingan keagamaan bagi siswa," kata Edy.

Lebih lanjut, Edy mengungkapkan alasan menutupi peristiwa ini adalah karena tidak ingin dicap buruk oleh masyarakat. Ia juga khawatir kerasukan akan memengaruhi semangat siswa dan pelatih tim baris-berbaris dalam menghadapi lomba yang akan berlangsung dua pekan lagi di Alun-alun Wates.

Menurut Kasdiyono, tindakan sekolah menutup-tutupi peristiwa kerasukan seharusnya tidak perlu dilakukan. Kebohongan justru akan membuat masyarakat penasaran hingga akhirnya tercipta rumor yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Lebih baik sekolah mengakui dan berjanji akan lebih melindungi siswa.

Peristiwa kerasukan di sekolah ini adalah yang pertama di tahun 2009. Sebelumnya, sekitar bulan Agustus 2008, kerasukan pernah melanda empat siswa SMA Negeri 1 Wates yang berlatih baris-berbaris.