Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 06:34 WIB
Puting Beliung Rusak Rumah di Kabupaten Serang
| jimbon | Rabu, 28 Oktober 2009 | 07:08 WIB
|
Share:

SERANG, KOMPAS.com Sebanyak delapan rumah di Desa Gambus, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, rusak akibat terjangan puting beliung, Senin (26/10). Selain itu, sebagian kandang ayam di desa tersebut roboh dan menyebabkan 100 dari total 1.500 ekor ayam yang berada di dalamnya mati.

 

”Sekitar pukul 20.00 malam tadi, warga sudah selesai memperbaiki genteng yang melorot dan sebagian pecah. Total kerugian ditaksir Rp 5 jutaan,” kata Kepala Kepolisian Sektor Kopo Ajun Komisaris Ansori, Selasa (27/10).

Penuturan Ansori, pada saat kejadian, hujan sudah mulai reda, tetapi tiba-tiba bertiup angin kencang yang mengakibatkan delapan rumah warga rusak ringan. Tidak ada korban jiwa ataupun luka dalam peristiwa tersebut.

Kejadian angin puting beliung di Kopo ini adalah yang ketiga di Kabupaten Serang dalam kurun tiga minggu terakhir. Sebelumnya pada Sabtu (10/10) juga terjadi angin puting beliung berbarengan dengan hujan deras yang merusakkan tujuh rumah gubuk di Desa Tambak, Tambak Hilir, dan Citawai, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Selanjutnya, Rabu (21/10), sebanyak 52 rumah di Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, mengalami rusak ringan, delapan rusak sedang, dan satu ambruk rata dengan tanah ketika puting beliung menerjang kawasan tersebut.

Saat dikonfirmasi, pengamat meteorologi Stasiun Meteorologi Serang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Tatang Rusmana, mengatakan, angin puting beliung berpotensi terjadi di peralihan musim. Bahkan, pada musim hujan pun masih bisa terjadi puting beliung meskipun peluangnya lebih kecil.

”Puting beliung terbentuk saat ada perbedaan tekanan di sekitar awan kumulonimbus, bersifat lokal dengan radius pengaruh antara lima hingga 10 kilometer,” kata Tatang.

Angin puting beliung memiliki karakteristik sekali lewat dengan kecepatan berkisar 30-50 kilometer, berdurasi tiup antara tiga hingga lima menit.

Kesiapan hadapi banjir

Musim hujan yang sudah di depan mata menuntut adanya kesiapan untuk menghadapi bencana banjir bagi warga DKI Jakarta.

Demi mencegah banjir besar seperti tahun 2007, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan program kali bersih dan latihan penanggulangan bencana yang telah dilakukan beberapa kali.

Geladi bersih penanggulangan bencana banjir dan pencanangan operasi kali bersih tahun 2009 yang kembali digelar kemarin pagi itu diikuti 750 petugas dari lima wilayah kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu. Kegiatan dipusatkan di RW 01 Kelurahan Kebonbaru, Tebet, Jakarta Selatan.

Dalam geladi bersih tersebut, petugas memeragakan cara evakuasi korban yang terjebak banjir dan memadamkan kobaran api yang menghanguskan bangunan. Selain itu, petugas juga mendirikan tenda pengungsian dan dapur umum serta peragaan menangkap pencuri yang memanfaatkan kesempatan di tengah musibah banjir.

Kegiatan itu melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika, para wali kota dan bupati, PMI, TNI, Polda, serta masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Sadar Bencana. Kegiatan itu dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Muhayat.

”Masyarakat dan semua pihak, termasuk pemerintah, wajib siap siaga menghadapi bencana, khususnya banjir. Selama setahun terakhir, pemerintah berupaya keras menyelesaikan proyek Banjir Kanal Timur serta perbaikan saluran drainase. Banjir pasti belum bisa dihentikan total, tetapi minimal bisa dikurangi potensi meluasnya bencana ini,” papar Muhayat.

Belum semua

Namun, upaya pemerintah ternyata belum menyentuh semua masalah penyebab banjir. Misalnya, di Jakarta Utara, sejumlah kali tetap mengalami penyempitan, bahkan ada pengurukan.

Ketua Dewan Kelurahan Kalibaru Fhilis Sudianto mengatakan, sebaiknya normalisasi dilakuan di muara sungai. ”Di muara, penumpukan sampah sudah sangat tinggi. Jika kali dinormalisasi, sementara muaranya tetap tersumbat, banjir tetap akan terjadi,” kata Fhilis.

Sementara Fredi Setiawan, Lurah Semper Barat, mengakui, warganya terancam banjir jika Kali Gubuk Genteng dan Kali Cakung Lama tidak dinormalisasi. (CAS/ARN/WIN/NEL)

 

Sumber :
Kompas Cetak