Minggu, 21 September 2014

News / Regional

Meski Diguncang Gempa, Krakatau Aman

Senin, 19 Oktober 2009 | 08:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda hingga saat ini dalam kondisi aman. Gempa bumi yang berpusat di sekitar Ujung Kulon, Jumat (16/10) sore, tidak berpengaruh banyak pada gunung tersebut.

”Gempa tektonik yang terjadi di Ujung Kulon hanya sedikit pengaruhnya pada aktivitas vulkanik Krakatau,” kata ahli gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, Sabtu (17/10) di Jakarta.

Gunung Krakatau pernah meletus hebat tahun 1883 yang suaranya terdengar hingga radius lebih dari 4.000 kilometer. Letusan gunung itu pun menimbulkan tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Setelah gunung itu meletus hebat, bahkan terhebat di dunia, muncul Anak Krakatau.

Menurut Danny, gempa tektonik di lokasi tertentu yang disusul meletusnya gunung berapi yang berdekatan dengan pusat gempa hanya kebetulan. Seperti terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006, gempa yang berpusat di Sesar Opak kebetulan disusul meletusnya Gunung Merapi.

”Kasus tersebut tidak terjadi pada gempa yang berpusat di Ujung Kulon, pekan lalu,” ujarnya.

Teliti Sesar Cimandiri

Tim peneliti saat ini sedang mengkaji serius dampak gempa di Ujung Kulon terhadap sesar atau patahan yang berada di dekatnya. Sesar terdekat adalah Sesar Cimandiri, yang terbentang mulai dari Sukabumi, Jawa Barat, hingga Lembang di Bandung bagian Utara.

”Kami masih meneliti untuk mengetahui energi yang terbentuk setelah gempa Ujung Kulon,” ujarnya.

Dalam penelitian ini, lanjut Danny, LIPI bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Riset sudah dilakukan sejak dua tahun lalu sehingga bukan semata-mata meneliti pascagempa Ujung Kulon.

Menurut Danny, riset Sesar Cimandiri dapat berlangsung hingga 10 tahun ke depan atau lebih. Hasil penelitian ini sangat bermanfaat untuk kegiatan mitigasi atau pengurangan risiko bencana gempa.

Berdasarkan penelitian sementara, lanjut Danny, gempa Ujung Kulon yang merupakan ujung dari Sesar Sumatera tidak berpengaruh banyak pada sistem Sesar Cimandiri. ”Karena berbeda sistemnya, maka sangat kecil kemungkinan terpicunya,” ujar Danny. Akan tetapi, menurut dia, setiap gempa yang merambat memang selalu memberikan tekanan pada daerah di sekitarnya.

Secara terpisah, ahli gempa dari ITB, Sri Widiyantoro, mengatakan, sebagian besar korban gempa di Indonesia karena tertimpa reruntuhan rumah. Karena itu, perlu kebijakan serius pemerintah soal struktur bangunan yang ramah terhadap gempa.

Perlu pula penyadaran pada semua pihak, mulai dari pemerintah, aparat, hingga masyarakat, bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia tinggal di daerah rawan gempa. Gempa juga akan terus terjadi tanpa bisa diperkirakan kapan datangnya.

”Langkah yang harus dilakukan adalah berupaya memperkecil jumlah korban,” ujarnya. (NAW)


Editor : wsn
Sumber: