
CIREBON, KOMPAS.com — Rencana keluarga Syaifudin Zuhri menguburkan jasad Syafudin Zuhri dan kakaknya, M Syahrir, di tempat pemakaman keluarga tempat kelahiran ayahnya, Jaelani, di Desa Sampiran, Dusun Benjaran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, mendapat penolakan dari warga setempat.
Warga beralasan predikat gembong teroris yang melekat pada dua anak Jaelani yang tewas di sebuah kamar kos di kawasan Ciputat, Tangerang, Jumat (9/10), dalam penyergapan oleh jajaran Densus 88 telah mencemarkan nama baik desanya.
"Keputusan tersebut merupakan hasil dari pertemuan antara tokoh masyarakat dan perwakilan dari keluarga Jaelani, yaitu Jaduli, adik kandung Pak Jaelani, di kantor kuwu (desa)," kata Makid, Kepala Dusun Benjaran, saat ditemui di kantor kuwu, Sabtu (10/10).
Pertemuan yang berlangsung hingga pukul 03.00 dini hari tersebut, kata Makid, membahas tentang keberatan warga jika dua kakak beradik teroris tersebut dimakamkan di desanya karena dianggap sebagai pengkhianat bangsa, juga karena keduanya bukan warga setempat.
"Kalau yang warga asli sini hanya bapaknya, Jaelani. Sedangkan Syaifudin Zuhri dan M Syahrir yang kami tahu lahir dan besar di Jakarta. Jadi kami menolak, jika desa kami hanya dijadikan kuburan untuk mereka," lanjut Makid.
Dalam pertemuan tersebut juga, menurut Makid, adik kandung Jaelani yang masih tinggal di desa tersebut, Jaduli, menyatakan menolak pemakaman dua teroris tersebut di desanya.
Warga Desa Sampiran lain yang menolak pemakaman Zuhri dan Syahrir adalah Herman. Herman mengaku selama ini tidak mengenal siapa Syaifudin Zuhri dan M Syahrir selain sebagai teroris, itu pun diketahuinya melalui pemberitaan di televisi dan koran saja.
"Dengan pemberitaan tentang dua gembong teroris tersebut dikaitkan dengan desa kami saja sudah memberatkan kami, apalagi jika akhirnya keduanya dikuburkan di sini, kami lebih keberatan," katanya. "Kami takut dampaknya terhadap anak cucu kami nanti," tegas Herman.
Seperti diucapkan Sucihani, kakak kandung Syaefudin Zuhri, jika ternyata rencana keluarga menguburkan Zuhri dan Syahrir di Desa Sampiran ditolak warga maka pihak keluarga terpaksa mengambil alternatif terakhir yaitu menguburkan keduanya di samping Ibrohim, yang beberapa waktu lalu tewas oleh Densus 88 dalam penggerebekan di Temanggung, di TPU Pondok Rangon, Jakarta.
"Jika ditolak lagi terpaksa kami akan menguburkan keduanya di samping makam Bang Boim (Ibrohim) di TPU Pondok Rangon," ujar Sucihani di rumahnya, di Desa Sampra, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jumat (9/10).