Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 04:48 WIB
Musyawarah Nasional di Riau Titik Kritis Golkar
| Senin, 5 Oktober 2009 | 05:37 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com-Rendahnya perolehan suara Golongan Karya pada pemilihan umum Juli 2009 dinilai karena lemahnya kepemimpinan partai. Oleh karena itu, Musyawarah Nasional Partai Golkar pada 5-8 Oktober 2009 di Pekanbaru, Riau, menjadi penting untuk melahirkan pemimpin baru yang kuat dan solid. Jika tidak, partai ini akan semakin terpuruk dalam pemilihan umum ke depan.

Demikian rangkuman pendapat dari para pinisepuh dan pendiri Partai Golongan Karya (Golkar) yang dihimpun Kompas, Jumat, Sabtu, dan Minggu (2-4/10), tentang masa depan partai setelah Musyawarah Nasional (Munas) 2009.

Mereka yang dimintai pendapat adalah mantan Menteri Keuangan JB Sumarlin, mantan Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara, dan mantan Menteri Urusan Peranan Wanita Sulasikin Murpratomo.

”Beberapa kali saya turun ke lapangan, bertemu dengan banyak kader Golkar. Mereka mengeluhkan telah ditinggalkan oleh organisasi,” kata Cosmas Batubara.

”Jika Golkar tidak mau menyapa kembali kader hingga tingkat terbawah, masa depan partai akan suram,” katanya menambahkan.

Dekat kader

Sulasikin mengatakan, selain pengorganisasian yang solid, kekuatan Partai Golkar pada masa lalu adalah juga karena para pemimpin partai rutin menyambangi kader hingga ke desa-desa melalui program Karakterdes (Kader Teritorial Desa).

”Waktu itu kami rutin ke desa-desa dan tinggal bersama masyarakat. Hampir setiap Sabtu-Minggu, pimpinan pusat partai turun ke desa,” kata Sulasikin mengenang masa jaya Partai Golkar pada era Orde Baru.

Sumarlin menyoroti terjadi- nya persaingan dan perpecahan lembaga-lembaga payung Partai Golkar. ”Dulu kita memiliki banyak organisasi pendukung seperti Kosgoro, SOKSI, dan MKGR. Mereka semua saling dukung untuk kemajuan partai,” kata Sumarlin.

”Tapi sekarang organisasi itu pecah. Sebagian anggota bahkan menyeberang ke partai lain,” katanya.

Menurut Sumarlin, perpecahan itu terjadi karena pemimpin Partai Golkar gagal merawat aset partai dan lamban mengatasi perubahan sistem perpolitikan di Indonesia. Pascareformasi telah terjadi perubahan perilaku pemilih yang cenderung antipati terhadap unsur lama.

Aturan pemilu yang menggeser pola pemilihan dari parpol ke kandidat juga menuntut tokoh yang kuat dan mengakar. Belum lagi kecepatan perkembangan isu yang menuntut pada keberpihakan isu dan munculnya partai-partai pesaing baru. ”Kepengurusan partai dalam satu periode terakhir sepertinya juga lambat merespons perkembangan politik di luar partai itu,” kata Sumarlin.

Masih diperhitungkan

Munculnya persaingan para calon ketua Partai Golkar dari kalangan mapan dan cukup dikenal di masyarakat dalam munas mendatang, menurut Cosmas, mengindikasikan bahwa Partai Golkar masih diperhitungkan sebagai pilihan sosial politik bangsa. ”Saya tidak risau dengan persaingan antarcalon. Saya yakin munas kali ini bisa menjadi titik tolak baru untuk membenahi organisasi,” ujarnya.

Namun, Sumarlin terusik dengan kerasnya persaingan calon. Proses penentuan ketua dengan cara pemilihan langsung ini merupakan hal baru bagi Partai Golkar karena sebelumnya dilakukan dengan konvensi.

”Dulu, ketika ketua partai ditentukan melalui konvensi, politik uang terjadi. Masalahnya, apakah dengan cara sekarang itu tidak terjadi?” katanya.

Sumarlin mengingatkan agar calon yang terpilih dalam munas beberapa hari ke depan harus bisa menyatukan kekuatan semua pihak di tubuh Partai Golkar yang sekarang tercerai-berai. Pihak yang kalah juga harus bisa menerima dengan terbuka dan ikut mendukung pihak pemenang.

Hingga saat ini, menurut Sulasikin, Golkar adalah satu-satunya partai lama yang masih bertahan utuh. ”Golkar jangan sampai mengikuti partai-partai lain yang mau dipecah. Meskipun di dalam partai ada konflik kepentingan, partai harus tetap utuh,” ujarnya. (AIK)

Sumber :
Kompas Cetak