Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 04:47 WIB
Pendidikan di Tempat Darurat Perlu Strategi Tepat
| Minggu, 4 Oktober 2009 | 11:03 WIB
|
Share:

KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN
"Rekonstruksi yang dikelola oleh BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) itu disanggupi selesai Februari 2010," tutur Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jabar Wahyudin Zarkasyi, ditanya mengenai penanganan pascagempa bidang pendidikan, Rabu (30/9), di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat.

TERKAIT:

BANDUNG, KOMPAS.com — Kegiatan belajar mengajar di lokasi terkena dampak gempa bumi memerlukan strategi yang tepat agar materi yang disampaikan dapat sampai dan diterima oleh siswa, sedangkan tempat belajar tidak begitu bergantung pada adanya ruangan kelas.

"Kegiatan belajar mengajar di lokasi terkena dampak gempa berlangsung dalam keadaan darurat sehingga tidak sama dengan kegiatan serupa di lokasi normal," kata penjabat pelaksana tugas (Plt) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, H Juhana, di Soreang, seperti dikutip Antara, Sabtu (3/10).

Karena itu, kata Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung ini, dalam kegiatan belajar mengajar di lokasi terkena dampak gempa perlu strategi yang berbeda pula dengan kegiatan yang sama di tempat normal.

Juhana mengatakan hal itu sehubungan dengan adanya ratusan ribu siswa SD serta siswa SMA dan sederajat di Kecamatan Pangalengan yang kehilangan bangunan gedung sekolahnya akibat gempa bumi tempo hari.

Menurut Juhana, strategi pembelajaran di sekolah darurat lebih penting daripada memikirkan tempat sebagai ruang untuk kegiatan belajar mengajar karena kegiatan pendidikan ini dapat berlangsung di mana saja.

Karena itu pula, sekalipun tidak ada tenda atau ruangan lain sebagai pengganti ruang kelas, yang hancur akibat gempa bumi berkekuatan 7,3 pada skala Richter, tidak menjadi hambatan.

"Kenapa kita mesti terhambat oleh ketiadaan ruang kelas, kita saat ini ada dalam keadaan darurat, belajar mengajar kegiatannya bisa berlangsung tanpa harus bergantung kepada ruangan formal," katanya.

Dalam keadaan darurat, lanjut Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bandung itu, kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung dalam tenda, bangunan bambu, bahkan dapat pula berlangsung di luar ruang, misalnya di bawah pohon.

Juhana menyebutkan, rusaknya puluhan gedung sekolah di Kecamatan Pangalengan mengakibatkan sebagian besar siswa terpaksa mengikuti kegiatan belajar mengajar di luar ruang kelas, salah satunya di dalam tenda.

Dikatakan Juhana, bila merujuk kepada banyaknya ruang kelas yang rusak, untuk kegiatan belajar mengajar di Kecamatan Pangalengan sebanyak 376 unit. Namun, yang terpasang baru sekitar 200 unit.