Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 03:24 WIB
Tiga Kecamatan di Kulon Progo Kekurangan Bak Penampung
Yoga Putra | Selasa, 29 September 2009 | 19:16 WIB
|
Share:

KULON PROGO, KOMPAS.com- Tiga kecamatan di Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta, kekurangan bak penampung air. Hal ini mengganggu distribusi bantuan air bersih di musim kemarau seperti sekarang. Sebagian warga bahkan terpaksa menggunakan sumur umum untuk menampung air pemberian pemerintah tersebut.

Ketiga kecamatan itu adalah Pengasih, Girimulyo, dan Kokap. Ketiganya merupakan daerah langganan krisis air bersih setiap musim kemarau karena berada di daerah perbukitan. Pada musim kemarau, banyak sumber mata air yang mati.

Menurut Camat Pengasih Sri Hermintarti, jumlah bak penampung air di wilayahnya jauh dari ideal. "Seharusnya tersedia satu bak tiap 10 rumah," katanya, Selasa (29/9).

Di Pengasih terdapat tiga desa yang rawan kekeringan, yakni Karangsari, Sidomulyo, dan Margosari. Terdapat 5.738 rumah tangga di tiga desa itu, sehingga seharusnya tersedia minimal 500 bak penampung air.

Kenyataannya, jumlah bak yang ada saat ini kurang dari 100 unit. Satu bak dengan volume tampungan air sekitar 10.000 liter terpaksa digunakan untuk melayani kebutuhan air warga satu dusun yang terdiri dari 80-100 rumah tangga.

Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Girimulyo. Jumlah bak penampung air baru 50 persen dari total kebutuhan yang mencapai lebih dari 600 buah untuk empat desa, yakni Purwosari, Pendoworejo, Giripurwo, dan Jatimulyo.

Sementara di Kecamatan Kokap, jumlah bak air diperkirakan baru 200 buah, atau 25 persen dari total kebutuhan. Kokap memiliki wilayah rawan kekeringan terluas di Kulon Progo, meliputi lima desa seluas lebih dari 7.000 hektar.

Camat Kokap Santoso mengatakan sudah mengajukan bantuan bak air kepada pemerintah kabupaten, provinsi, bahkan pusat. Akan tetapi, tidak semua permohonan itu terkabul dengan alasan dana yang terbatas. Untuk membangun bak secara swadaya, warga Kokap tidak mampu karena mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan.

Bak-bak penampung air yang sudah diberikan juga banyak yang salah tempat, sehingga tidak mampu berfungsi optimal karena tak terjangkau masyarakat. "Pemberian bantuan sering tidak melibatkan masyarakat dan pemerintah lokal," ujarnya.

Dampak dari minimnya ketersediaan bak air dirasakan warga di Dusun Kalipetir, Margosari, Pengasih. Mereka terpaksa menampung air bantuan dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kulon Progo ke dalam sumur umum di tengah sawah.

Dikatakan Wasono (41), warga, 5.000 liter air itu seharusnya bisa dimanfaatkan tiga hari. Akan tetapi tak sampai dua hari, air yang dimasukkan ke dalam sumur sedalam 15 meter itu sudah habis tak bersisa. Sebagian besar air meresap ke dalam tanah.

Pengisian air ke dalam sumur itu sudah berlangsung puluhan tahun di Kalipetir Lor. Warga sebenarnya sudah sering mengajukan bantuan bak air kepada pemerintah, namun belum terkabul.

Kepala Seksi Pelayanan Pelanggan PDAM Kulon Progo Jumantoro juga mengaku ketiadaan bak penampung air menghambat distribusi air bersih. Petugas sering kebingungan menempatkan air ketika tiba di suatu wilayah dusun.