CIREBON, KOMPAS.com — Grebeg Syawal yang diadakan Kesultanan Kanoman di Kompleks Pemakaman Astana Gunung Sembung, pada tanggal 8 Syawal atau Minggu (27/9), dipadati ribuan warga. Mereka datang dari berbagai wilayah, sampai Bandung dan Jakarta.
Rahmayati (58), warga Mertapada, Cirebon, sengaja datang bersama keluarga dan kerabatnya ke Kompleks Pemakaman Astana Gunung Sembung untuk mengikuti Grebeg Syawal 1430 Hijriah. Selain berharap dan berdoa mendapatkan berkah, dia juga ingin berziarah ke makam-makam orang suci.
Hal senada dikaakan Usman (49), warga Haurgeulis, Indramayu, yang menginap semalam di kompleks pemakaman. Dia ingin mengetahui proses syawalan dan mendapat berkah dari surak (sawer) yang akan dilakukan Sultan Kanoman XII Sultan Raja Muhammad Emirudin, selepas keluarga Keraton Kanoman melakukan ziarah kubur. "Saya ingin tahu, dan ingin juga dapat barokah," katan Usman.
Ribuan warga sudah memadati kompleks pemakaman sejak sekitar pukul 05.30 pagi. Semakin siang, peziarah dan warga makin banyak yang berkumpul. Ritual Grebeg Syawal merupakan ziarah kubur dan zikir makam Sunan Gunung Jati, Panembahan Ratu, Sultan, dan Raja Cirebon, serta para leluhur lainnya. Ritual dilakukan tanggal 8 Syawal, atau setelah puasa sunah Syawal tanggal 2-7 Syawal.
Ziarah kubur diakhiri dengan surak uang receh oleh Sultan, yang disambut warga dengan berebut uang itu. Sundari (40) merasa senang bisa mendapatkan uang receh yang disawer oleh Sultan. Harapannya, uang tersebut bisa memberi rezeki untuk usahanya.
Sekretaris Yayasan Famili Kesultanan Kanoman Cirebon Arief Rahman mengatakan, inti upacara budaya ini adalah tradisi menghormati leluhur, serta silaturahim antara kerabat keraton dan warga. Menurutnya, warga berduyun-duyun ikut Grebeg Syawal karena mereka percaya banyak berkah yang tersalurkan dari ritual tersebut.


