TASIKMALAYA, KOMPAS.com — Kapolresta Tasikmalaya AKBP Aries Syarif Hidayat mengatakan, puncak kepadatan kendaraan di jalur selatan Jawa Barat yang melalui Garut-Tasikmalaya-Ciamis-Banjar biasanya terjadi ketika arus balik, bukan arus mudik. Kondisi jalan dari arah Timur ke arah Barat yang menanjak menjadi penyebabnya.
Aries, Jumat (18/9), mengatakan, salah satu titik rawan kecelakaan dan kemacetan di jalur selatan adalah di daerah Gentong. Karakter jalur ini banyak tikungan tajam dan permukaan jalan bergelombang. Titik paling rawan kemacetan di Gentong ada di jembatan Trowek. "Kendaraan besar seperti bus tidak bisa berpapasan di jembatan yang sempit ini sehingga harus melintas bergiliran," ungkapnya.
Sebelum memasuki Gentong, tepatnya di daerah Pamoyanan atau pertigaan ke Pesantren Suryalaya juga, kata Aries, rawan kemacetan. Di ruas jalan sepanjang 5 kilometer ini kendaraan tersendat akibat adanya pertigaan ke Kecamatan Pagerageung.
Selain Trowek dan Pamoyanan di Gentong, lanjut Aries, titik rawan kemacetan juga ada di masjid Iceu di Kecamatan Jamanis. Di lokasi ini banyak rumah makan yang dijadikan tempat beristirahat para pemudik. Keluar masuk kendaraan dari area peristirahatan ini bisa mengganggu kelancaran lalu lintas.
Kasubaglantas Polwil Priangan Komisaris Herman Syarif menambahkan, jika terjadi kepadatan di Limbangan menuju Nagreg maka polisi akan menerapkan pola satu arah. Kendaraan dari arah Barat akan dihentikan sementara untuk memberikan kesempatan pada kendaraan dari arah Timur untuk melintas.
Selain itu, polisi juga akan memecah arus kendaraan dengan mengalihkannya ke sejumlah jalur alternatif. Jalur alternatif yang bisa ditempuh di antaranya jalur Warung Bandrek-Cibatu-Garut atau Limbangan-Garut. Jika ternyata di Nagreg masih macet, maka kendaraan bisa saja dialihkan untuk menempuh jalur Cijapati untuk kemudian ke Bandung.


