SEMARANG, KOMPAS.com - Mendekati Hari Lebaran, pemudik mulai membanjiri pusat oleh-oleh makanan khas daerah untuk berburu buah tangan. Gerai makanan khas pun bersiap mengantisipasi tingginya permintaan konsumen menjelang dan setelah Lebaran.
Di Kota Semarang, sebagian besar pemudik yang berbelanja di pusat oleh-oleh adalah mereka yang transit dan masih akan melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan, atau mereka yang berasal dari Kota Semarang dan akan menuju daerah lain.
Sri Handilah (53) misalnya, datang dari Jakarta dan sedang dalam perjalanan menuju Surabaya. "Ke sini mampir untuk beli oleh-oleh saja. Kan Semarang terkenal dengan bandeng presto dan wingko babadnya. Kalau dari Jakarta saya sudah bawa dodol," ujar Sri.
Maka, Sri membeli makanan khas di Kota Semarang untuk menambah variasi oleh-oleh yang dibawanya. Menurut Sri, oleh-oleh penting artinya untuk sanak saudara yang akan dikunjungi.
Riana (42) yang akan mudik ke Kabupaten Rembang juga demikian. Setiap akan pergi ke kampung halamannya, dia selalu membawakan keluarganya bandeng duri lunak dari Kota Semarang.
"Seluruh keluarga saya sudah hapal, kalau saya datang pasti bawa bandeng presto. Mereka rata-rata juga menyukainya, makanya saya tidak pernah absen bawa bandeng presto," ujar Riana.
Antusiasme pengunjung itu menjadi perhatian para pemilik gerai makanan khas. Di Kota Semarang, toko oleh-oleh yang menyediakan bandeng presto, lunpia, dan wingko babad kebanjiran pengunjung.
Antrean nampak salah satunya di Bandeng Juwana duri lunak. Pengelola gerai tersebut, Arif H Kusmadi, mengatakan peningkatan transaksi saat musim ramai seperti Lebaran diperkirakan mencapai 50 persen dibanding hari biasa.
"Jika biasanya untuk bandeng presto bisa terjual 200-300 kilogram per hari, di musim ramai bisa 400 kilogram per hari. Itu belum termasuk makanan khas yang lain," ujar Arif.
Arif mengungkapkan, biasanya mereka yang berbelanja adalah orang-orang yang sekedar singgah di Kota Semarang karena kebetulan dilewati. Jika sebelum Lebaran banyak yang membeli untuk oleh-oleh ke tempat tujuan, setelah Lebaran rata-rata membeli untuk oleh-oleh untuk kembali.
Di Bandeng Duri Lunak dan Lunpia Djoe misalnya, pengelola sudah mulai menambah stok sejak tujuh hari menjelang Lebaran. Jika biasanya untuk bandeng terjual rata-rata 100 kilogram per hari, kini sekitar 150 kilogram bandeng mulai habis terjual.
"Nanti setelah Lebaran biasanya pengunjung lebih banyak lagi. Waktu arus balik, rata-rata pemudik pasti ingin membawa oleh-oleh," ungkap penanggung jawab toko, Kartini.
Pemudik yang sudah familiar dengan Kota Semarang biasanya membeli bandeng duri lunak, wingko babad, dan lunpia. Kalau yang belum tahu, kata Kartini, pasti akan bertanya apa makanan khas Kota Semarang.