KOMPAS.com — Jalan penuh lubang berdiameter sekitar satu hingga dua meter dan tergenang menjadi pemandangan ketika memasuki Kawasan Industri Terboyo, Kota Semarang, Kamis (10/9). Ketika sampai di ujung jalan, debu tebal berwarna hitam pekat mengepul setiap kali ada kegiatan bongkar muat batu bara ke sebuah truk.
Pemilik PT Ebako Nusantara, perusahaan mebel asal Singapura, Lee Wo fun, menyebutkan, kondisi tersebut seperti neraka dunia. Kondisi itu membuat investasi yang ditanamkannya sejak tahun 2003 di Kawasan Industri Terboyo tidak pernah berkembang hingga sekarang.
"Tidak ada pelanggan baru karena mereka tidak mau masuk ke dalam kawasan ini. Akhirnya, kami hanya bergantung pada pelanggan loyal," keluh Lee.
General Manager PT Port Rush, salah satu perusahaan mebel asal Amerika Serikat, David Lund, mengakui, perusahaannya batal diperluas karena kondisi kawasan yang tidak mendukung. Padahal, perluasan senilai Rp 20 miliar tersebut dapat menyerap 300 tenaga kerja tambahan.
Buruknya infrastruktur dan pencemaran lingkungan membuat para investor asing di Kawasan Industri Terboyo gerah. "Mereka bahkan berniat hengkang, jika tidak ada upaya pembenahan dari pengelola maupun pemerintah. Investasi jadi mandek, jika begini terus lebih baik saya mengalihkan investasi ke lokasi lain," ucap Lee.
Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terdapat di kawasan Lingkungan Industri Kecil (LIK), Bugangan. Jalan rusak berlubang yang dipenuhi genangan rob dikeluhkan para pengusaha. Meskipun kerusakan sudah berlangsung sejak 2002, tidak ada upaya dari pengelola LIK untuk memperbaikinya.
Sunardi (40), pegawai sebuah bengkel las listrik di kawasan tersebut, mengaku, banyak pelanggan yang mengurungkan niatnya untuk menggunakan jasa bengkelnya karena akses jalan masuk ke dalam LIK rusak parah.
"Kalau musim hujan, mobil tidak bisa lewat. Terpaksa pesanan dari pembeli kami tunda pengantarannya, bahkan ada yang pernah mencapai seminggu. Kalau begini terus kan kami bisa kehilangan pembeli," ucap lelaki yang telah bekerja selama 19 tahun di kawasan tersebut.
Anggota DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono mengatakan, buruknya infrastruktur di dalam sebuah kawasan industri merupakan cerminan ketidaksiapan pemkot dalam menerima investor, terutama pengusaha asing. Hal ini menjadi preseden buruk karena dapat menghilangkan kepercayaan investor lainnya terhadap Kota Semarang.
Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Kota Semarang Harini Krisniati mengaku tidak akan membiarkan para investor untuk hengkang dari Kota Semarang hanya karena buruknya infrastruktur di dalam kawasan industri.
"Saya akan memanggil pengelola Kawasan Industri Terboyo, Senin ini. Jika tidak dapat diselesaikan secara internal maka pemkot akan memfasilitasi agar perbaikan segera dilakukan," ucapnya.
Namun, tidak semua kawasan industri memiliki infrastruktur yang buruk, terdapat pencemaran lingkungan dan terkena banjir. Di Kawasan Industri Wijaya Kusuma, akses jalan masuk dan keluar mulus. Di Kawasan Industri Candi, pengelola bahkan menyediakan pohon di median jalan untuk mempercantik kawasan.


