Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 13:25 WIB
Korban Gempa Mulai Mual dan Pusing
Mohamad Burhanudin | Kamis, 3 September 2009 | 18:20 WIB
|
Share:

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Warga di Desa Jayapura, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengungsi di tenda-tenda darurat, Rabu (2/9). Gempa yang terjadi pukul 14 . 55 berkekuatan 7,3 skala Richter dan berpusat di kedalaman 30 kilometer di bawah dasar Samudra Indonesia, atau 142 kilometer barat daya Kabupaten Tasikmalaya, terasa di sejumlah tempat di Indonesia dan mengakibatkan sejumlah rumah warga desa setempat hancur. Warga mengungsi di sejumlah tenda darurat karena masih trauma atas musibah ini.

TERKAIT:

CILACAP, KOMPAS.com Pengungsi korban gempa bumi di wilayah Cilacap, Jawa Tengah, mulai banyak yang mengalami mual, pusing, dan muntah. Kondisi trauma, cuaca panas, tempat tinggal sementara yang kurang layak, dan kurangnya bantuan makanan bergizi membuat mereka mudah sekali mengalami gangguan kesehatan, terutama mereka yang telah berusia lanjut.

Di Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungreja, terdapat sekitar 120 jiwa yang terpaksa mengungsi karena rumah mereka roboh total dan tak lagi dapat ditempati. Umumnya mereka mengungsi dengan mendirikan tenda di dekat rumah atau tinggal di tempat tetangga yang rumahnya utuh. Namun, ada pula yang terpaksa tinggal di bawah pohon dekat rumah karena tak mempunyai tenda.

Kepala Puskesmas Kedungreja Mami Elmi Kusmiati, Kamis (3/9), mengatakan, hingga Kamis sore, sebanyak 113 pengungsi memeriksakan kesehatan ke posko kesehatan Bojongsari. Mereka umumnya mengalami mual, pusing, dan muntah.

"Gejala seperti itu terjadi karena mereka ini trauma dan kurang tidur sehingga mudah mengalami pusing," kata Mami.

Para pengungsi umumnya telah mendapat bantuan makanan berupa beras, mi instan, gula, teh, dan kopi. Namun, karena satu keluarga rata-rata berjumlah lebih dari lima jiwa, bantuan yang diberikan hingga Kamis siang masih kurang.

Dapur umum yang disediakan di Bojongsari juga kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sekitar 24 keluarga yang rumahnya roboh. Para kepala keluarga di masing-masing keluarga yang menjadi korban gempa umumnya tak dapat bekerja. Mereka masih trauma dengan peristiwa gempa tersebut. Mereka juga disibukkan dengan kegiatan membersihkan puing-puing rumah mereka. Akibatnya, mereka tak dapat menghasilkan uang bagi keluarganya guna memenuhi kebutuhan hidup.

"Terus terang, kami tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Bantuan dari pemerintah sangat kami harapkan, termasuk untuk membangun kembali rumah kami yang hancur ini," ujar Kardi, warga Bojongsari.

Di SD Sidamulya 03, gempa mengakibatkan hampir semua kelas di sekolah tersebut rusak dan tak dapat digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Kamis kemarin, bahkan, siswa terpaksa belajar di halaman sekolah.

Kepala SD Sidamulya Sri Rejeki Agnes mengatakan bahwa pihaknya sudah mengajukan permintaan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Cilacap. Dia berharap, bantuan pembangunan dan perbaikan kembali bangunan sekolah tersebut segera direalisasikan.

Wakil Bupati Cilacap Tatto S Pamudji mengatakan, jumlah kerugian material akibat gempa bumi yang menerpa Cilacap mencapai Rp 21 miliar. Sebagian berupa kerugian hancurnya bangunan fisik.

Terkait dengan kerusakan tersebut, Pemkab Cilacap akan memberikan bantuan kepada warga yang rumahnya roboh dan rusak. Namun, jumlahnya masih akan dibahas. Pemkab Cilacap saat ini masih terus menginventarisasi jumlah rumah atau bangunan yang rusak.

Walau demikian, kebutuhan mendesak bagi korban gempa, seperti tenda, selimut, makanan, dan obat-obatan, Tatto mengatakan bahwa hal itu tak dapat ditunda-tunda. Bersama muspida, kebutuhan-kebutuhan tersebut harus segera didistribusikan.