BOGOR, KOMPAS.com - Sebagian rumah yang hancur di kawasan Desa Cimande Kecamatan Caringin, Bogor akibat gempa berkekuatan 7.3 SR di Tasikmalaya umumnya tidak layak huni. Abdul Jalaludin (38) mengakui rumahnya di Desa Cimande Kampung Tarikolot II RT 11/RW 03 Caringin yang rusak berat karena gempa termasuk rumah tidak layak huni.
"Tadi Bapak Bupati (Bogor) datang ke sini. Beliau bilang memang rumah saya tidak layak huni sebenarnya. Sepertinya, benar juga. Ini memang rumah tua," tutur Abdul kepada Kompas.com, Kamis (3/9).
Rumah ini adalah rumah mertuanya. Abdul dan keluarganya tinggal bersama mertua karena keputusan khusus. Meski dindingnya sudah diplester, ketahanan dinding rumah diakuinya tidak kuat lagi, termasuk bagian atap yang terbuat dari rangka kayu.
Menurut pengamatan Kompas.com, akibat gempa, dinding ruangan yang biasanya difungsikan sebagai dapur rata dengan tanah. Sementara itu, setengah bagian dinding ruang tamu tampak menganga. Kerangka kayu di atap rumah juga bergelantungan karena patah. Meski demikian, ruang tamu sudah tampak bersih dan keluarga Abdul masih memutuskan tinggal di sisi rumah yang masih utuh.
"Pak Bupati tadi menawarkan bantuan pembangunan rumah saya. Beliau kasih penawaran dibangun dengan timnya atau jenis bantuannya (uang) saja. Tapi nominalnya belum tahu," lanjut Abdul.
Rumah Abdul masih lumayan tampak kokoh daripada rumah Dae di Desa Pancawati, Kampung Cipare RT 03/RW 12, Kamis (3/9). Rumahnya nyaris tak bisa dihuni lagi. Dinding di sisi kanan ruang tamu rusak berat dan di sejumlah sisi dinding juga retak. Material di langit-langit rumah juga ambruk menyebabkan ruang tamu berantakan.
Jika diamati, bangunan rumahnya memang tampak ringkih. Hanya berupa batako yang direkatkan dengan semen. Belum diplester. Hanya saja, selama ditinggali kurang lebih setahun masih aman menurutnya. "Enggak nyangka gempa besar kayak gini. Ya dulu bangunnya seadanya karena kurang modal juga," kata Dae.
