PAMEKASAN, KOMPAS.com - Polres Pamekasan menyelidiki kasus meninggalnya Wulandari, 11, siswa kelas IV SDN Teja Barat III yang diduga mati tidak wajar. Kasus itu dilaporkan ibu kandung korban, Ny Endang ke Polres Pamekasan.
Menurut informasi, sekujur tubuh korban membiru dan terdapat beberapa luka sobek. Di dada Wulandari terlihat bekas luka akibat setrika, di kedua paha dan kepala juga terdapat luka. Dugaan sementara, meninggalnya korban ada kaitannya dengan tindakan ibu tirinya, Yun.
“Kemarin ibu kandung korban sudah kami mintai keterangan. Dan kami sekarang sudah memanggil beberapa saksi yang dianggap mengetahui kematian korban,” kata AKP Kholil, Kasat Reskrim Polres Pamekasan kepada Surya, Senin (31/8).
Informasi yang dihimpun dari tetangga korban, menyebutkan bahwa Jauhar, ayah Wulandari bercerai dengan Endang, kemudian menikahi Yun. Wulan kemudian tinggal bersama Jauhar, sedang Endang merantau ke Kalimantan.
Selama tinggal bersama ibu tirinya, Wulan kerapkali mendapat hukuman, tidak hanya dimarahi, juga dipukul. “Kami pernah menerima pengaduan Wulan, jika ibu tirinya galak dan sering memukul dirinya,” ujar salah seorang tetangga korban.
Dikatakan, sehari sebelum meninggal, Kamis (27/8), korban masih terlihat bermain bersama kakaknya, setelah itu warga melihat Wulan dibawa keluarganya ke rumah sakit karena tubuhnya membiru seperti keracunan.
Kepala Desa Teja Barat, Misnadin sudah mendegar jika kematian Wulan tidak wajar. Dari penuturan beberapa warga yang melihat saat korban dimandikan, di tubuhnya terdapat luka, terparah di bagian kepala.
Namun Misnadin tidak berani menduga apakah kematian korban akibat penganiyaan atau faktor lain. Keluarganya menyebutkan Wulan mati karena terjatuh. “Untuk kepastiannya biar polisi yang menangani,” kata Misnadin. (st30)


