Bandar Lampung, Kompas -
Akrom, Kepala Bagian Pengembangan Perekonomian Biro Perekonomian Pemprov Lampung, Minggu (23/8), mengatakan, berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, peningkatan kebutuhan bahan pangan akan terjadi dua pekan sebelum Ramadhan dan sepekan menjelang Lebaran.
”Masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan persediaan yang bisa saja terjadi karena distribusi terhambat arus mudik dengan adanya panen musim gadu tersebut,” ujar Akrom.
Akrom mengatakan, rincian data panen yang diperoleh dari Dinas Pertanian Lampung menyebutkan, padi akan dipanen di 11 kabupaten/kota di Lampung. Total luas panen padi mencapai 50.967 hektar. Luas panen terbanyak terdapat di Lampung Tengah seluas 10.051 hektar dan kedua di Tanggamus seluas 9.853 hektar.
Total produksi padi pada musim gadu diperkirakan sebanyak 235.567 ton gabah kering giling (GKG). Sesuai dengan luasan panen, produksi terbesar diperkirakan terjadi di Lampung Tengah sebesar 46.455 ton GKG dan dari Tanggamus sebesar 45.541 ton GKG.
Komoditas kedua yang juga akan panen musim gadu adalah kacang tanah. Luas panen kacang tanah mencapai 625 hektar, dengan luasan terluas ada di Lampung Tengah 240 hektar dan Lampung Timur 110 hektar. Produksi kacang tanah saat musim gadu diperkirakan sebanyak 794 ton, dengan produksi terbesar dari Lampung Tengah 304 ton dan Lampung Timur 140 ton.
Komoditas ketiga yang juga akan panen musim gadu adalah cabai merah. Luasan panen cabai merah di 11 kabupaten/kota di Lampung mencapai 1.169 hektar.
Luas panen terbanyak ada di Pesawaran seluas 304 hektar dan kedua di Tanggamus 281 hektar. Produksi cabai merah diperkirakan 3.672 ton, dengan kontribusi panen terbesar dari Pesawaran 955 ton dan Tanggamus 881 ton.
Akrom lebih lanjut mengatakan, meskipun stok ketiga jenis bahan pangan tersebut dipastikan aman, Pemprov Lampung melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan masih akan berkoordinasi dengan PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP). Hal itu khususnya menyangkut angkutan stok bahan makanan yang tidak tahan lama, seperti sayur-mayur dan buah-buahan.
Selama ini pasokan sayur-mayur dan buah-buahan Lampung sebagian dipasok dari Jawa Barat. ”Kami akan meminta PT ASDP memberikan prioritas untuk angkutan komoditas tidak tahan lama tersebut, selain tentunya angkutan mudik mulai H-7 hingga H+7,” ujar Akrom.
Sriyantho, pedagang besar sayuran di Pasar Tamin, mengatakan, stok sayuran dataran tinggi yang masuk ke Lampung sebagian besar berasal dari Jawa Barat. ”Sekitar 50-65 persen sayuran di Lampung dipasok dari luar Lampung,” ujarnya.
