Pagi itu, Minggu (26/7), Mardi, warga Desa Baturetno, Banguntapan, Bantul, memanen singkong yang ditanamnya di halaman belakang rumahnya. Tidak banyak yang dipanen, hasilnya hanya sekitar 15 kilogram. Ia menjualnya seharga Rp 500 per kg, jadi total uang yang diperolehnya Rp 7.500.
Mardi adalah salah satu warga yang mau memanfaatkan lahan sekitar rumah untuk bertanam singkong. Tidak banyak orang seperti dia. Sebagian besar enggan menanam singkong karena harganya rendah. Mereka memilih membiarkan lahannya kosong atau dimanfaatkan untuk keperluan lain. Gerakan menanam singkong dengan memanfaatkan lahan sekitar rumah atau sekitar sawah masih belum menjadi tradisi di Bantul, DI Yogyakarta.
Rendahnya harga jual singkong menjadi persoalan serius. Di Bantul tak banyak petani yang melirik singkong sebagai komoditas pertanian. Padahal, kebutuhan singkong di daerah itu cukup tinggi, khususnya untuk industri gatot-tiwul dan tepung tapioka.
Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto mengatakan, petani hanya menanam singkong di lahan marjinal, seperti di daerah pegunungan. Di Bantul ada lima kecamatan yang memiliki wilayah pegunungan, yakni Dlingo, Imogiri, Pajangan, Pundong, dan Piyungan.
”Petani tidak mau menanam singkong di lahan produktif persawahan karena hasilnya tidak terlalu menjanjikan. Mereka memilih menanam padi atau jenis palawija lainnya,” katanya.
Harga jual singkong saat ini Rp 500-Rp 800 per kg, jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga kedelai yang mencapai Rp 5.000 dan jagung Rp 4.000 per kg.
Edy menambahkan, selain faktor harga jual, petani di Bantul juga belum merasa kepepet. Jika kondisi sudah terdesak, mereka bisa saja memanfaatkan lahan di sekitar rumah dan lahan pasir. ”Petani Bantul sudah merasa tercukupi dengan mengandalkan lahan persawahan mereka,” katanya.
Selain harga jual, minimnya teknologi pengembangan singkong juga membuat komoditas itu tidak populer. Tidak banyak penelitian untuk pengembangan singkong.
Terkait dengan harga jual, petani Bantul seharusnya bisa bersikap jeli dalam menangkap peluang pasar. Saat ini kebutuhan akan singkong tergolong masih tinggi, baik untuk tepung gaplek, tapioka, maupun industri makanan lainnya. Tak hanya itu, singkong juga mulai dimanfaatkan untuk membuat biofuel. Di Bantul, selain industri gatot-tiwul, juga terdapat industri tepung tapioka di Desa Srihardono, Kecamatan Pundong.
Muhari (50), salah seorang perajin tepung tapioka, mengatakan, akibat tersendatnya pasokan singkong, produksinya turun hingga 30 persen. Perajin berharap petani mau menanam singkong agar pasokan bahan baku mereka lancar. ”Sayangnya, peminatnya masih terbatas,” ujarnya.
Di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, singkong sudah dilirik kalangan petani berdasi. Mereka mengembangkannya dalam skala besar di atas lahan lebih dari 50 hektar.
Meski tidak menjadikan singkong sebagai komoditas populer, petani seharusnya bisa menempatkannya sebagai tanaman tambahan di ladang, pekarangan rumah, atau sekitar sawah. Apalagi tanaman singkong tidak memerlukan perawatan khusus seperti tanaman holtikultura lainnya.
Singkong juga tidak membutuhkan lahan khusus. Singkong bahkan masih dapat tumbuh di daerah marginal walaupun dengan konsekuensi produksi yang kurang maksimal.
Kemudahan penanaman juga masih ditambah lagi dengan kemudahan dalam memperoleh bibit, fleksibilitas dalam hal perawatan, pemupukan, dan jenis lahan. Tenaga kerja yang dibutuhkan juga hanya sebatas tenaga borongan, atau bisa dikerjakan sendiri oleh petani apabila skalanya tidak terlalu besar.
