Banda Aceh, Kompas
Hal demikian dikatakan beberapa warga Lamno dan Camat Lamno Idram ketika dihubungi dari Banda Aceh, Jumat (14/8).
Idram mengatakan, sejak menjabat sebagai camat setahun yang lalu, pembangunan jembatan yang didanai Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), sampai saat ini tidak kunjung usai. Padahal, menurutnya, masyarakat di sekitar lokasi tidak mempersulit proses pembangunan jembatan tersebut. Bahkan, katanya, masyarakat mendukung sepenuhnya karena membantu mereka untuk berhubungan dengan daerah-daerah di seberang Sungai Lambesoe tersebut. ”Warga mendukung penuh,” ujarnya.
Idram mengaku dirinya sudah bertemu dengan pihak terkait, termasuk lembaga donor, yaitu USAID, agar segera melanjutkan pembangunan yang sudah lama terhenti. Namun, sampai kini belum ada kejelasan sikap dari pemprov dan lembaga tersebut.
Pembangunan jembatan itu mendesak dilakukan kembali, kata Idram, karena jembatan yang ada, yaitu Jembatan Kartika- Jembatan Bailey yang dibangun Batalyon Zeni Tempur 1 Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat, saat ini tak mampu dilewati lagi oleh truk angkutan barang dan bus. Hanya kendaraan pribadi dan kendaraan roda dua serta angkutan penumpang yang bisa melintasi jembatan tersebut. ”Truk dan angkutan barang lainnya tidak bisa lewat kalau air sungai naik. Ini yang terjadi kemarin,” katanya.
Sementara itu, menurut Deden, pekerja PT Hutama Karya, saat ini pihaknya menyiagakan satu alat berat untuk membantu truk atau angkutan barang lainnya apabila hendak menyeberang sungai itu. ”Bila air terlalu deras, tetap agak sulit. Butuh waktu lama,” katanya.
Kepala Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Muhyan Yunan menyatakan akan membicarakan penyelesaian pembangunan jembatan tersebut dengan pihak USAID sesegera mungkin. (MHD)
