Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 04:42 WIB
PSK Demo di ICAAP Ke-9
Evy Rachmawati | Rabu, 12 Agustus 2009 | 23:08 WIB
|
Share:

ilustrasi

NUSA DUA, KOMPAS.com — Penyelenggaraan Kongres Internasional AIDS Asia Pasifik (ICAAP) ke-9, Rabu (12/8) di Nusa Dua, Bali, diwarnai unjuk rasa yang dilakukan forum komunitas pekerja seks Asia Pasifik. Mereka menuntut agar partisipasi mereka ditingkatkan dalam kongres-kongres AIDS mendatang dan terpenuhinya hak-hak mereka sebagai manusia, termasuk bagi pekerja seks dengan HIV positif.

Dandanan mereka tampak mencolok dengan rambut dicat warna-warna terang, beberapa di antara mereka membawa payung merah dan spanduk bertuliskan, "Tidak ada pekerja seks yang buruk, yang ada adalah regulasi yang buruk". Mereka mengenakan masker sebagai simbol pembungkaman aspirasi para pekerja seks. Salah satu pengunjuk rasa membawa boneka perempuan dengan mulut ditutup masker.

Mereka berjalan berkeliling Gedung Bali International Convention Center (BICC) sambil membawa spanduk, membagikan selebaran berisi tuntutan mereka kepada para peserta kongres, dan meneriakkan yel-yel bahwa pekerja seks juga merupakan pekerja. Sejumlah peserta kongres tampak mengabadikan unjuk rasa itu dengan kamera.

Para pengunjuk rasa menuntut agar partisipasi mereka ditingkatkan dalam kongres-kongres AIDS Asia Pasifik yang akan datang melalui beasiswa dan menjadi pembicara. Mereka juga meminta agar pihak panitia penyelenggara lebih mengakomodasi keragaman peserta dengan menyediakan penerjemah untuk beberapa bahasa.

Forum pekerja seks juga meminta agar apa yang mereka kerjakan diakui pemerintah dan semua kelompok masyarakat, termasuk lembaga agama. Hukum yang mengkriminalkan para pekerja seks baik perempuan, pria, dan transgender memicu tindak kekerasan yang dilakukan polisi, tentara, dan pegawai pemerintah terhadap mereka.

Karena itu, perlu ada reformasi hukum agar komunitas itu tidak mengalami diskriminasi. Pekerja seks yang hidup dengan HIV juga berhak untuk bekerja dan berpartisipasi dalam komunitas pekerja seks dan pengidap HIV. Akses universal terhadap terapi antiretroviral, perawatan, dan dukungan lain juga seharusnya menjangkau para pekerja seks.