LEBAK, KOMPAS.com - Ribuan anak di Kabupaten Lebak, Banten, terancam mengalami gangguan retardasi mental atau "idiot" akibat kekurangan mengkonsumsi garam yodium.
"Saat ini di masyarakat masih banyak beredar garam yang tidak mengandung yodium," kata Kepala Seksi Gizi, Dinas Kesehatan, Kabupaten Lebak, Tata Sudita, Kamis.
Tata mengatakan, kekurangan garam yodium cukup berbahaya karena dapat melahirkan generasi yang tidak berkualitas dan tidak produktif.
Kekurangan garam yodium bisa menimbulkan generasi idiot atau retardasi mental, tubuh pendek, bisu tuli atau lumpuh.
Selain itu, bila konsumsi diet rendah yodium akan menjadi anak yang kurang inteligensi atau kecerdasan, bodoh, lesu dan apatis dalam kehidupannya.
Untuk itu, kekurangan yodium juga menyebabkan masyarakat miskin dan tidak berkembang dan anak mengalami kesulitan untuk belajar.
Pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat diminta segera membuat peraturan daerah (Perda) tentang garam yodium untuk menyelamatkan generasi tersebut.
Perda ini, kata dia, untuk menertibkan peredaran garam non yodium yang beredar di Kabupaten Lebak.
Selama ini, banyak ditemukan peredaran garam tidak mengandung yodium. Dia mengatakan, dengan adanya Perda itu tentu memiliki landasan hukum untuk menertibkan, bahkan menindak-tegas bagi pelaku peredaran garam non yodium itu.
"Kami banyak menemukan garam non yodium di warung-warung di Kabupaten Lebak," katanya.
Berdasarkan data jumlah anak usia bawah lima tahun (Balita) di Kabupaten Lebak tahun 2008 mencapai 112.787 anak dan dikhawatirkan mereka mengalami kekurangan garam yodium.
Sementara itu, Ita Rosita, seorang Bidan di kawasan Baduy, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, mengaku dari 200 balita yang ada dan baru ditemukan seorang anak mengalami keterbelakangan mental atau idiot akibat kekurangan yodium dan asupan gizi yang baik.
"Saya prihatin melihat kondisi anak itu bernama Sawi (5 tahun) dengan berat badan enam kilogram dan tidak sebanding dengan usianya," ujar Ita Rosita.
