Kamis, 31 Juli 2014

News / Regional

Warga Kulon Progo Minta Sekolah Terpencil Dipertahankan

Kamis, 23 Juli 2009 | 12:34 WIB

KULON PROGO, KOMPAS.com -  Perwakilan warga Dusun Blubuk, Desa Sendangsari, Pengasih, dan Dusun Clapar, Desa Hargowilis, Kokap, Kulon Progo meminta sekolah dasar di daerahnya dipertahankan. Mereka menolak rencana regrouping atau penggabungan SDN Blubuk ke SDN Widoro karena lokasi SDN Widoro terlampau jauh dan sulit terjangkau oleh siswa.

Penolakan itu mengemuka pada pertemuan perwakilan warga dengan pejabat pemerintah Desa Sendangsari, Kamis (23/7). Mereka mengaku gusar dengan rencana Pemerintah Kabupaten Kulon Progo yang akan menggabung SDN Blubuk dan SDN Widoro.

"Kami keberatan karena SDN Blubuk merupakan satu-satunya sekolah dasar yang mudah diakses dari Clapar dan Blubuk. Kalau digabung dengan SD Widoro, kasihan anak-anak. Mereka berarti harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer setiap hari," papar Sukijan, warga Blubuk.

Kepala Dusun Clapar III Suratno menambahkan tidak ada cara lain bagi siswa untuk dapat bersekolah selain berjalan kaki. Tidak ada sarana transportasi yang menghubungkan dua dusun di wilayah perbukitan itu.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Dasar (UPTD PAUD Dikdas) Pengasih Eko Teguh Santosa mengatakan alasan dari rencana regrouping SDN Blubuk adalah minimnya jumlah siswa. Pada tahun ajaran ini, sekolah itu hanya memiliki total 40 siswa. Bahkan, jumlah siswa kelas I yang diterima hanya satu orang.

Menurut Surat Keputusan Bupati Kulon Progo Nomor 225 Tahun 2006 tentang Penggabungan Sekolah, jumlah siswa minimal untuk satu SD sekitar 80 orang. Jika kurang, maka sekolah itu bisa digabung.

Meski demikian, peraturan itu juga memuat pengecualian bagi sekolah terpencil dan merupakan satu-satunya fasilitas pendidikan bagi warga di suatu wilayah. Karena itu, rencana regrouping SDN Blubuk tidak bisa dipaksakan.

Pertemuan itu berakhir damai dengan kesepakatan bahwa SDN Blubuk tidak akan digabung, tetapi warga harus sungguh-sungguh berkomitmen mengoptimalkan fungsi sekolah. Kepala Desa Sendangsari Sumbogo juga meminta tokoh masyarakat di kedua dusun untuk mendorong warga bersekolah di SDN Blubuk.

Ia yakin jumlah siswa SDN Blubuk akan bertambah karena saat ini banyak terdapat warga yang berusia balita. Mereka tentu akan akan masuk sekolah dasar beberapa tahun lagi.

Sementara itu, Staf Seksi Kurikulum Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kulon Progo Danuri mengatakan bahwa penggabungan SDN Blubuk dan SDN Widoro belum diprioritaskan tahun ini. Menurutnya SDN Blubuk masih diperlukan warga, sehingga layak untuk dipertahankan.

Tahun ajaran ini Dinas Pendidikan Kulon Progo menggabung delapan SD menjadi empat SD. Sekolah-sekolah yang digabung antara lain SDN Ngipikrejo dan SDN Dekso I di Kecamatan Kalibawang, SDN Gerbosari dan SDN Samigaluh I di Kecamatan Samigaluh, SDN Panjatan I dan SDN Panjatan II-III, serta SDN Praneman dan SDN Ngaglik di Kecamatan Panjatan.

Delapan sekolah itu digabung karena jumlah siswanya kurang dari 80 orang. Namun, penggabungan delapan sekolah itu tidak menemui kendala karena letaknya saling berdekatan sehingga masih mudah diakses oleh warga.


Editor :