Sabtu, 25 Oktober 2014

News /

Sekolah Kejuruan

Bangga, Lulusan SMK Bisa Jadi Pilot

Selasa, 21 Juli 2009 | 13:38 WIB

Gagah betul penampilan para siswa ini. Badan tegap, tinggi relatif sepadan, serta rambut rapi dalam balutan seragam dinas berwarna biru lengkap dengan atribut emblem, logo, dan pangkat. Tampilan mereka layaknya mahasiswa sekolah tinggi penerbangan.

Mereka adalah siswa SMKN 29 Kota Bandung. Tiap Senin dan Selasa mereka memang diwajibkan mengenakan seragam dinas harian untuk menumbuhkembangkan kebanggaan terhadap korps dan institusi mereka. Bangga adalah kata kuncinya. "Biar mereka punya semangat dan jiwa penerbangan sehingga bangga menjadi siswa di sini," tutur Edy Purwanto, Kepala SMKN 12 Kota Bandung, Jumat (17/7).

Bagaimana tidak bangga jika mereka setiap hari berurusan dengan dunia penerbangan dan tentu pesawat terbang? Hal yang tidak bisa dilakukan siswa SMK lain, apalagi siswa SMA. Rizqi Ahmad (17), salah seorang siswa SMKN 12, misalnya, mencicipi rasanya bergumul langsung dengan pesawat-pesawat jet Boeing 737 Series atau pesawat terbaru tipe Airbus A350-900 ketika magang di maskapai penerbangan AirAsia.

Di tempat kerja praktik inilah ia mendapatkan kebanggaan lain sebagai seorang alumnus SMK. "Kami bertemu dengan Pak Ali Imron. Beliau seorang pilot yang ternyata alumnus SMKN 12 angkatan pertama," tutur Rizqi yang diiyakan B Rizki (17), kawannya yang juga ikut magang di AirAsia.

"Banyak juga alumnus kami yang jadi kapten pilot. Ini jika mereka bagus dan mendapat kesempatan pengembangan diri di airline (maskapai). Inilah mengapa di sekolah kami juga diajarkan pengetahuan dasar penerbangan, misalnya tentang keselamatan penerbangan," ucap Edy.

Sekolah yang terletak di Jalan Pajajaran Nomor 92, Kota Bandung, dan berdiri tahun 1986 ini adalah satu dari empat SMK negeri bidang penerbangan di Indonesia. Pendirian dan pengembangan sekolah ini tidak terlepas dari keberadaan PT Dirgantara Indonesia (dulu PT IPTN). PT DI

Berbeda dengan empat SMK penerbangan lain, SMKN 12 mengambil spesifikasi keahlian manufaktur industri penerbangan, klop dengan tetangganya, PT DI, yang letaknya bersebelahan dengan SMK ini.

"Sebanyak 30-40 persen lulusan kami terserap di PT DI," ujar Edy. Tiap tahun jumlah lulusan SMK ini sekitar 400 orang dari peminat yang terus meningkat, yaitu 1.000 orang.

Tiap tahun pula, sebelum resmi dinyatakan lulus, para lulusan sekolah ini telah dipesan sejumlah industri atau maskapai penerbangan. Hebatnya, perusahaan-perusahaan ini jemput bola. Mereka datang dari jauh-jauh dan langsung mengadakan tes di sekolah.

Perusahaan itu di antaranya Garuda Maintenance Facility (GMF)-Aero Asia, PT DI, Lion Air, dan Batavia Air. B Rizki, siswa SMK ini, ikut tes di Lion Air, GMF, dan Batavia Air sekaligus. "Tes di Lion Air tinggal tunggu medical check-up. Habis itu tinggal ikut training," katanya.

"Dari SMKN 12 Kota Bandung kami mendapat delapan orang untuk ikut dalam program Basic Aircraft Mechanic. Mereka akan ikut program training gratis plus uang transpor. Jika lolos akan diangkat menjadi asisten teknisi," ucap Trisna Hermana dari Human Resource Development PT GMF-Aero Asia dalam sebuah pertemuan. (Yulvianus Harjono)


Editor :