Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 11:01 WIB
Ponpes Ngruki Tuntut Habib Abdurrahman Minta Maaf
IGN sawabi | Senin, 20 Juli 2009 | 15:21 WIB
|
Share:

SOLO, KOMPAS.com — Pondok Pesantren (Ponpes) Al Mukmin, Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mengecam komentar Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia Habib Abdurrahman Assegaf terkait kasus peledakan Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, Jumat (17/7).
     
"Kami mengecam komentar Habib Abdurrahman yang mengatakan bahwa kami hanya mencari sensasi ketika menyangkal dugaan pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jakarta, pernah menjadi santri di ponpes ini," kata Wakil Direktur III Ponpes Al Mukmin Soleh Ibrahim di Sukoharjo, Senin.
     
Dia mengatakan, saat ini pihaknya belum ada rencana menggugat Habib Abdurrahman. Meskipun begitu, katanya, pihaknya menuntut Habib untuk meminta maaf terkait komentar yang sudah disampaikan ke media.
     
"Jika hal tersebut tidak direspons, tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan gugatan hukum. Kami tidak bisa menerima komentar-komentar tersebut karena tidak berdasarkan bukti yang jelas mengenai hal yang dituduhkan kepada pihaknya," katanya.
     
Mengenai tuduhan pelaku bom bunuh diri, Nur Sahid, dari Ponpes Al Ngruki, mengatakan, hal tersebut tidak benar. "Dari daftar santri yang pernah belajar di ponpes ini, tidak ada nama Nur Sahid," katanya.
     
Menurut Soleh, selama ini pihaknya tidak pernah menyangkal orang-orang yang terbukti sebagai tersangka terorisme berasal dari ponpes ini jika hal tersebut terbukti terdaftar sebagai santri. "Untuk tuduhan kali ini kami menyangkalnya karena memang tidak terdaftar di dalam buku induk ponpes ini. Kami memberi kesempatan kepada siapa saja, termasuk pihak keluarga, untuk membuktikan tersangka tersebut pernah terdaftar sebagai santri kami," katanya.
     
Saat ini, ujarnya, pihak ponpes belum melakukan konfirmasi kepada pihak keluarga tersangka terkait pengakuan mereka bahwa Nur Sahid pernah belajar di Ponpes Ngruki. Jika tuduhan tersebut benar, dia mengatakan, hal tersebut tidak bisa dikaitkan dengan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan ponpes ini karena tidak pernah ada ajaran mengenai terorisme yang diberikan pihaknya.
     
"Setelah santri ponpes menyelesaikan masa pendidikan, kami menyerahkan mereka sepenuhnya kepada pihak orangtua. Oleh karena itu, aksi terorisme yang dilakukan beberapa oknum alumni ponpes ini sudah bukan tanggung jawab kami," kata Soleh Ibrahim.

Sumber :
Antara