KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Pesanan Kaus Pilpres Senilai Rp 3 Miliar Belum Dibayar
Jumat, 10 Juli 2009 | 08:14 WIB
KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO
Pemilik kios sablon kaos, Samsir menata kaos partai bergambar pasangan capres-cawapres yang bertarung pada pemilu presiden 8 Juli di kiosnya, di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Minggu (31/5). Ia mengaku pesanan kaos dan atribut

 

BANDUNG, KOMPAS.comTunggakan pemesanan kaus kampanye pemilihan umum presiden yang baru saja usai ke sejumlah perajin di sentra industri kaus Suci, Kota Bandung, Jawa Barat, total sekitar Rp 3 miliar. Saat ini perajin masih menunggu pelunasan pembayaran hingga dua minggu ke depan. Jika tidak dilunasi, perajin akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

Ketua Koperasi Perajin Kaus Suci Bandung Marnawie Munamah, Kamis (9/7) di Bandung, mengatakan, sedikitnya ada tiga pelaku usaha yang masih memiliki piutang kepada tim sukses calon presiden. ”Kami akan terus menagih. Tidak ada rasa takut. Sebab, jika kami merugi, usaha kami bangkrut,” katanya.

Tunggakan pembuatan kaus seperti ini pernah terjadi saat pemilu legislatif April lalu. Pada waktu itu, sejumlah partai politik dan calon anggota legislatif dari seluruh Indonesia menunggak pembayaran kaus dan atribut kampanye sekitar Rp 10 miliar kepada perajin di sentra industri kaus di kawasan Suci.

Marnawie mengatakan, seluruh kaus pesanan tim sukses telah diselesaikan jauh sebelum masa kampanye berakhir. Namun, hingga pilpres usai, ada sejumlah nota pembayaran yang belum dilunasi. ”Tunggakan hanya dilakukan tim sukses capres nomor urut dua,” katanya.

Menurut Marnawie, perajin cukup mengalami kesulitan menagih pembayaran tunggakan itu. Bahkan, pengurusan pembayaran terkesan berbelit dan terkadang sedikit berbau intimidasi.

Yoga Bujana, salah seorang perajin kaus dari Bima Advertising, mengatakan, ada sebanyak 132.000 kaus dengan harga Rp 5.400 per lembar yang dibuat atas permintaan dari tim sukses secara lisan, tetapi setelah kaus dikirim, justru tidak jadi ditebus. Harga per potongnya Rp 5.400. ”Ada puluhan perajin yang mengalami nasib sama.”

Yoga mengakui, saat pesanan dari tim sukses tersebut disanggupi, tidak disertai dengan surat kontrak.

Hal itu dilakukan karena pesanan dilakukan saat menjelang akhir masa kampanye, di mana kebutuhan kaus sangat mendesak dan jumlah permintaan meningkat.

Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.