JAKARTA, KOMPAS.com — Organisasi kesehatan dunia (WHO) secara resmi menyatakan bahwa flu dengan virus A-H1N1 tidak membutuhkan penanggulangan medis secara khusus. Karena tanpa upaya tersebut ada penderita H1N1 ringan dapat sembuh. Demikian diungkap Dirjen P2-PL Departemen Keseharan Tjandra Yoga Aditama dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7).
Terkait dengan hal itu, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan bahwa saat ini di Amerika para penderita H1N1 tidak lagi diberi tamiflu karena terjadi resistensi, begitu pula Australia. Selama ini tamiflu diyakini mampu mengatasi penyakit flu yang berasal dari virus H1N1. Kedua negara ini pun tidak lagi melakukan pencegahan H1N1.
Sampai saat ini, Siti menambahkan, Indonesia masih menjajaki apakah penderita di Indonesia resisten juga atau tidak terhadap tamiflu. "Jika resisten, (penderita H1N1) bisa hanya diberikan obat flu biasa," tutur Siti. Lebih jauh, Siti menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil keputusan untuk tetap melakukan pencegahan dengan penjaringan.
"Selama ini, upaya penjaringan di pintu-pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan dengan thermal sensor sangat efektif untuk mencegah penularan virus H1N1 dari manusia ke manusia," tuturnya. Departemen Kesehatan juga tetap menyiagakan rumah sakit rujukan, meningkatkan surveillance, penguatan edukasi, dan informasi pada masyarakat dan penyedian tamiflu yang saat ini mulai berkurang.
Yang juga masih menerapkan kebijakan pencegahan H1N1 selain Indonesia adalah Singapura, Thailand, dan China. Selain itu, Siti juga mengimbau pada masyarakat mempraktikkan perilaku hidup sehat dengan cuci tangan dan memakai masker di saat kena flu. "Ini pencegahan paling murah dan paling efektif," ujarnya.

