KUPANG, KOMPAS.com - Sesuai rencana, Aliansi Nelayan Tradisional Nusantara Laut Timor segera dibentuk 11 Juli 2009. Aliansi ini untuk memperjuangkan hak-hak nelayan tradisional di Laut Timor yang selama ini tidak mendapat perhatian pemerintah RI dan Australia.
Nelayan tradisional yang mencari ikan di Laut Timor tidak hanya nelayan Rote Ndao sebagaimana disampaikan pemerintah Australia, tetapi seluruh nelayan tradisional se Nusantara yang selama ini menjadikan Laut Timor sebagai mata pencarian. Ketua Forum Masyarakat Timor Barat, Ferdi Tanone di Kupang, Sabtu (4/7) mengatakan, masyarakat nelayan tradisonal mendatanginya beberapa kali di Kupang.
Mereka minta agar segera dibentuk satu wadah nelayan tradisional untuk menampung aspirasi, keluhan, penderitaan, dan persoalan yang mereka hadapi. "Selama ini mereka sulit didengarkan karena tidak ada lembaga resmi yang menyuarakan aspirasi mereka. Padahal, mereka sudah sangat menderita dari tahun ke tahun. Kapal mereka ditahan dan dibakar angkatan laut Australia, mereka sendiri dipenjarakan," kata Tanone.
Haji Burhanudin salah satu nelayan Kupang mengatakan, selama tahun 2008 ada 29 kapal nelayan dibakar dan ditenggelamkan tentara Australia. Harga kapal itu antara Rp 50 juta - Rp 75 juta, dan sebagian besar kapal belum lunas kredit.
"Kami makin susah hidup. Di sana banyak janda karena suami mereka ditahan di Australia, anak anak tidak sekolah, dan ada yang putus sekolah karena ayah mereka ditahan," katanya.


