GRESIK, KOMPAS.com — Bau kembang dan aroma wewangian menyengat hidung ketika enam siswa perempuan mendekat ke salah satu makam. Tiba-tiba satu mayat dalam bentuk pocong bangkit. Spontan, anak-anak perempuan itu pun menjerit histeris.
Itu adalah salah satu tema pameran seni SMA Nahdlatul Ulama Gresik bertema kuburan. Pengunjung mendapatkan permen yang dibungkus dengan tisu putih menyerupai pocong. Mereka juga memamerkan lukisan, fotografi, seni instalasi, dan pernik-pernik berbahan limbah.
Selain itu, mereka juga memutar 10 film pendek karya siswa. Pembina kesenian SMA NU 1 Gresik, Kris Aji, mengatakan, pameran ini memanfaatkan waktu senggang sekolah yang belum memasuki hari efektif proses belajar mengajar. "Anak-anak pameran satu semester sekali," kata Kris.
Ketua Dewan Kesenian Gresik Tiko Hamzah sangat mengapresiasi karya siswa itu. "Ini bagus sekali. Anak kuliah saja kalau enggak diobrak-obrak (disuruh) tidak pameran. Namun, di sini siswa dengan inisiatif sendiri rutin menggelar pameran," ujarnya.
Dalam pameran kali ini setiap ruang didesain dengan konsep dan tema berbeda. Ada enam ruang untuk pameran, jadi pengunjung seperti menikmati konsep pameran yang berbeda-beda. Ada yang mengusung tema lingkungan, tema alam pedesaan, tema kuburan, serta tema perpaduan konsep zaman, mulai dari zaman modern yang digambarkan dengan televisi tanpa gambar dan suara radio rusak hingga jam yang terbalik.
Sementara itu, salah satu film yang diputar mengangkat cerita soal tukang semir sepatu yang pintar merancang model pesawat. Berbekal semangat, dia terus sekolah dan akhirnya diterima bekerja di industri pesawat terbang.
Sayangnya, tema film cenderung menyederhanakan masalah dan karakter penokohan kurang tampak serta alurnya tidak jelas. Pemeran ibu, guru, kepala sekolah, dan wanita karier tidak tampak bedanya karena tidak didukung properti, kostum, dan tata rias yang pas. "Semangat siswa berkarya itulah yang jadi tujuan utamanya," kata Beti, salah satu yang terlibat dalam pembuatan film itu.


