KEDIRI, KOMPAS.com - Kisah pilu menimpa Dari Winarsih, warga Dusun Nambaan, Desa Sambirejo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri. Wanita muda yang baru berusia 20 tahun itu mengakhiri hidup dengan cara minum racun, Senin (15/6) malam. Ketika peristiwa itu terjadi, suaminya Iwan Nurcholis (25) tak berada di rumah.
Diduga kuat, korban memilih bunuh diri dengan minum racun potas karena tak kuat mengarungi bahtera rumah tangganya setelah dinikahkan orangtuanya enam bulan lalu. Wanita yang akrab disapa Wiwin itu belum menempatkan Iwan pada posisi istimewa di hatinya. Sehari-hari ia lalui dengan suasana hati yang galau.
Selama kurun waktu itu, pasangan suami istri yang masih tinggal bersama orangtua Wiwin, kerap terjadi perselisihan. Menurut tetangga dekat korban, mereka sering cekcok. Kepala Dusun Nambaan, Riyono, menjelaskan, pesoalan dalam rumah tangga Wiwin dipicu oleh orangtua yang menjodohkannya dengan Iwan. Perempuan yang menamatkan pendidikan SMEA dua tahun lalu itu sebenarnya sudah mempunyai pacar pilihannya sendiri.
“Bahkan ada anggota keluarga yang menyebut terakhir masih SMS-an dengan pacarnya ini. Tapi siapa pacarnya, saya tidak tahu. Itu dikenal saat sekolah dulu. Mungkin SMS ini diketahui suaminya sekarang,” terang Riyono, Selasa (16/6).
Tiga bulan menikah, warga sekitar menangkap kesan bahwa pasangan ini memang tak seharmonis yang dibayangkan. Puncaknya terjadi pada Senin malam. Ini dipicu keinginan Iwan yang asli Desa Tirukidul, Kecamatan Gurah, mengajak istrinya ke rumah orangtuanya.
Namun malam itu Wiwin menolak sehingga Iwan terpaksa pergi sendiri. Namun baru sekitar 15 menit meninggalkan kampung istrinya, Iwan yang bekerja di sebuah gudang beras di Gurah menghentikan laju motornya. Suara HP-nya bergetar. Salah seorang keluarrga Wiwin memberi tahu kalau istrinya dilarikan ke rumah sakit karena sakit keras.
“Ketika Iwan datang ternyata istrinya sudah tak bernyawa lagi,” kata salah seorang saudara Iwan. Beberapa warga Dusun Nambaan geger setelah tengah malam kemarin mendengar teriakan minta tolong dari keluarga Sutikno, ayah Wiwin. Ternyata Sutikno yang bekerja sebagai penjual bambu mendapati anak sulungnya muntah-muntah dan terkapar di kamar tidur.
“Begitu melihat Wiwin muntah-muntah saya langsung berpikir yang paling buruk,” jelas Sutikno saat ditemui di rumah duka. Awalnya Sutikno sempat kesulitan masuk karena pintu kamar terkunci dari dalam. “Terpaksa saya rusak daun pintu. Betapa terkejutnya saya melihat anak saya tak berdaya setelah minum racun apotas,” ujar bapak empat anak ini dengan suara terbata-bata.
Tengah malam itu juga, Wiwin langsung dilarikan ke RS Amelia Pare. Namun dalam perjalanan ke rumah sakit swasta ini, perempuan nahas itu mengembuskan napas terakhirnya. Sutikno mengakui racun apotas itu disimpan di teralis dapur untuk persiapan meracuni tikus yang cukup mengganggu.
Meski begitu, ia menolak kalau tewasnya anak sulungnya itu karena persoalan rumah tangga. “Tidak ada kaitannya dengan pernikahan atau saya menjodohkannya dengan suaminya sekarang. Sejak sekolah fisik Wiwin memang lemah. Tadi malam dia juga hanya minum racun sedikit. Karena kena maag dan jantung, semua menjadi petaka,” lanjut Sutikno.
Tetapi salah seorang saudara Iwan yang menolak disebut namanya sangat yakin aksi bunuh diri Wiwin itu terkait problem dalam rumah tangga adiknya yang menikah dengan Wiwin. “Saya pernah menanyakan ke Iwan. Kenapa tubuh istrinya semakin kurus,” katanya.
Pihak keluarga yang sangat terpukul atas kejadian ini memilih tidak melapor ke polisi. “Kami belum tahu tewasnya korban akibat minum racun tersebut. Kami sampai saat ini tidak mendapat laporan sehingga kami tidak datang ke TKP,” jelas Kapolsekta Pare, AKP Agus Garbo. k2

