TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Seorang bocah, Afrizal (13) asal Banjarmasin Selatan, tersasar di daerah Banjaran, Jl. Situgede, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.
Keterangan warga Jl. Situgede, kepada wartawan, Sabtu, Afrizal ditemukan seorang tukang ojek, Burhan (40) yang merasa kasihan terlantar di terminal tipe A Kota Tasikmalaya, kemudian mengantarnya ke Jalan Situgede sesuai permintaan Afrizal.
Kedatangan Afrizal ke Tasikmalaya bermaksud menyusul ibu kandungnya, Ny Dewi Kristianti (35), yang diketahui kabur ke daerah Tasikmalaya setelah suaminya kawin lagi. Sial bagi Afrizal, setelah sampai di Tasikmalaya justru dia kebingungan, karena alamat alamat ibunya yang katanya berada di Jl. Situgede salah.
"Untuk sementara ini keberadaan ibunya Afrizal masih belum jelas, tapi Afrizal setiap ditanya merasa sangat yakin ibunya masih ada di Tasikmalaya, kata warga setempat Irwan, yang memberi tempat singgah anak tersebut.
Penuturan Afrizal, bisa sampai ke Tasikmalaya yakni setelah ibunya mengirim surat ke rumahnya di Kampung Kandangan, Desa Manggala, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Banjarmasin Selatan. Isinya meminta agar Afrizal menjaga Safrina (3), adiknya, dan meminta agar rajin belajar, dan di belakang sampul surat tertulis alamat Jalan Situgede No 30 Tasikmalaya, sehingga dengan bekal dan mengetahui alamat itu Afrizal nekad menyusul ibunya.
Sementara itu pengakuan Afrizal di rumah Iwan, ibunya kabur setelah mengetahui Samsul Bahri (40), ayah kandungnya punya istri muda, sehingga ibunya sakit hati dan memilih meninggalkan keluarga di Kalimantan. "Setelah mengetahui ayah nikah lagi, Umi (panggilan Afrizal kepada ibunya, red) selalu mengurung diri selama dua hari, kemudian tanpa pamit pada saya Umi pergi kalau tidak salah bulan Maret (2009) lalu," katanya.
Sedangkan ia mengetahui ibunya pergi setelah pulang sekolah, tidak melihat ibunya di rumah, saat itu juga mencari-cari ibunya di kampung tersebut bahkan ke daerah lain tempat yang biasa ibunya disinggahi. Afrizal mengaku sejak ibunya pergi setiap hari mengalami kesedihan, apalagi jika melihat adiknya yang sering menangis.
Seminggu setelah menerima surat dari ibunya, Afrizal pergi dari rumah dan berpamitan kepada neneknya sekaligus meminta bekal untuk diperjalanan. "Sebelumnya dilarang sama nenek, jangan menyusul ibu, karena khawatir, tapi akhirnya nenek mengizinkan dan memberi uang sebesar Rp 300 ribu," katanya.
Setelah itu Afrizal 27 Mei sekitar pukul 15.30 WIB memulai perjalanannya menuju Tasikmalaya dan berangkat dari rumah kemudian naik bus dan baru tiba di Banjarmasin pukul 02.00 WIB dini hari. Paginya dengan jalan kaki ia sampai di pelabuhan, sorenya datang Kapal Kirana II dan baru berangkat ke Surabaya tengah malam. Tanggal 29 Mei Kapal Kirana II sampai di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.
Karena tidak tahu di mana Tasikmalaya, Afrizal berniat pergi ke Jakarta dulu dengan menumpang KA Kertajaya, kemudian turun di Stasiun Bekasi. Di situlah ia mendapat petunjuk petugas Satpam agar naik bus Primajasa jika ingin ke Tasikmalaya.
Setiba di Tasikmalaya, Afrizal berjalan kaki tanpa arah dan akhirnya terdampar di Jalan Leuwianyar, Kota Tasikmalaya,hingga bertemu dengan Burhan yang mempertanyakan bertanya kedatangan anak tersebut.
Lantas Burhan mencoba mengantarkan mencari alamat yang diberikan Afrizal, namun setiba di alamat dituju, nama ibu Afrizal tidak ada di rumah tersebut.
Sementara itu selama petualanganya di Tasikmalaya, Afrizal sempat tinggal sembilan hari di rumah Burhan, namun karena merasa iba, warga sekitar membantu memberikan uang sebesar Rp 500 ribu untuk ongkos pulang Afrizal ke Banjarmasin.
Mengetahui akan dipulangkan, Afrizal sempat kabur dari rumah Burhan dan ditemukan sedang menuju Jalan Situgede dan berdiri di depan rumah jln Situ Gede nomor 30 itu seharian.
Besoknya, Burhan bersama warga mengantar Afrizal ke stasiun kereta api menuju Surabaya untuk dipulangkan ke Kalimantan, namun Afrizal kembali lagi ke Mangkubumi. Afrizal sampai sekarang tinggal di rumah Irwan (36),
warga Jalan Situgede I, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, sambil menunggu ibunya yang berharap datang menemui Afrizal.
"Saya tidak mau pulang, saya ingin ketemu dulu Umi dan membawanya pulang, saya sudah kangen," kata Afrizal sambil menangis.

