Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 12:51 WIB
Cenderung Fluktuatif, Gunung Slamet Masih Siaga
Madina Nusrat | Selasa, 9 Juni 2009 | 18:16 WIB
|
Share:

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Letusan asap dan lava pijar dari Gunung Slamet terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Rabu (27/5).

BANYUMAS, KOMPAS.com — Gunung Slamet masih berstatus siaga meskipun aktivitas vulkanis pada gunung yang memiliki ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut itu sempat menurun selama sepekan, sejak 27 Mei sampai 4 Juni. Baru mulai 5 Juni, aktivitas vulkanis gunung tertinggi di Jawa Tengah itu menunjukkan peningkatan, dari rata-rata 104 kali gempa letusan per enam jam selama sepekan kemarin menjadi 108 kali gempa letusan per enam jam.

Meskipun menunjukkan adanya peningkatan gempa letusan, Kepala Bidang Geologi Kantor Energi dan Sumber Daya Mineral Banyumas, Junaidi, mengatakan, letusan Gunung Slamet seperti kejadian sebelumnya tidak akan membahayakan masyarakat sekitarnya. "Selama ini, letusan Gunung Slamet tidak pernah sampai menyebabkan jatuhnya korban jiwa, baik akibat letusannya maupun lelehan laharnya," katanya, Selasa (9/6).

Sedangkan berdasarkan pengamatan sementara ini, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Departemen ESDM Surono menyatakan, aktivitas vulkanis Gunung Slamet memang cenderung fluktuatif. Akan tetapi, proses penggembungan tubuh pada gunung itu masih terus terjadi sehingga aktivitas vulkanis pada gunung tersebut masih berlangsung.

Oleh karena itulah, Gunung Slamet masih dinyatakan siaga atau level III, dengan radius 2,5 kilometer untuk lontaran material akibat letusan. Sebagai langkah antisipasi bencana, melalui situs PVMBG di internet, Surono menyarankan agar Gunung Slamet tetap harus ditutup dari kegiatan pendakian gunung. Masyarakat sekitar Gunung Slamet juga diminta waspada terhadap hujan abu akibat letusan gunung yang bisa terjadi setiap saat.

Namun seperti diutarakan Junaidi, letusan Gunung Slamet belum pernah menimbulkan korban jiwa. Akan tetapi, sebagai langkah antisipasi, pihaknya tetap memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar Gunung Slamet agar meningkatkan kewaspadaan, utamanya masyarakat di Kecamatan Baturraden, Karanglewas, Kedungbanteng, Cilongok, dan Sumbang.

Terlebih, lanjutnya, masa letusan Gunung Slamet bisa memakan waktu cukup panjang dari seminggu sampai sebulan lebih. Sejak tahun 1600-an sampai letusan terakhir beberapa tahun lalu, letusan Gunung Slamet memakan waktu sampai mingguan dan cukup panjang. "Namun selama itu, letusan gunung tersebut belum pernah menimbulkan jatuhnya korban jiwa di wilayah Banyumas," katanya.