Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 23:04 WIB
Ketika Atlet Bulu Tangkis Masuk Akmil
A Tjahjo Sasongko | Minggu, 7 Juni 2009 | 23:44 WIB
|
Share:

KOMPAS/DANU KUSWORO
Sejumlah atlet pelatnas bulu tangkis berlatih di Cipayung, Jakarta Timur. Regenerasi pemain pelatnas semakin mendesak mengingat prestasi bulu tangkis Indonesia belum menunjukkan kemajuan.

JAKARTA, Kompas.com - Pola penggemblengan diri di akademi militer mungkin juga akan diterapkan kepada para atlet senior di pelatnas Cipayung.

"Lapaarr...," teriakan seperti koor itu memecah kesunyian di ruang makan Akademi Militer (Akmil), suasana yang semula khidmat menjadi riuh saat dimulainya makan siang usai berdoa bersama.

Tanpa membuang-buang waktu, ratusan taruna yang sedang menjalani pendidikan di Akmil, yang sejak 15 April lalu ketambahan 39 pebulutangkis muda --23 putra dan 16 putri--,  langsung melahap semua yang terhidang di meja, tanpa sisa.

"Semua harus habis, bahkan sebotol (kecil) kecap yang disediakan di meja harus habis. Kadang mereka mencampurnya dengan air minum," kata Wenny Setiawati, salah seorang pebulutangkis yang sudah hampir dua bulan menjalani hari-harinya di Akademi Militer yang menempati tanah seluas 572,1051 Ha di kota Magelang yang berhawa sejuk.

Akan tetapi tampaknya aturan bagi para pebulutangkis tidak sekeras yang diberlakukan bagi taruna Akmil. Meski mereka makan bersama dalam satu ruangan, para pebulutangkis yang duduk berkelompok terpisah di ujung ruangan tidak harus menghabiskan makanan yang terhidang di meja.

Makanan mereka pun tidak berasal dari dapur yang sama. Jika taruna memakan masakan yang disediakan dapur Akmil, para pebulutangkis mendapat sedikit keistimewaan dengan makanan dari katering.

Namun, Gubernur Akmil, Mayjen TNI Sabar Yudo Suroso yang sempat meninjau dan makan siang bersama pada Jumat (5/6) siang, tidak puas dengan pelayanan jasa katering yang menurutnya kurang memenuhi kebutuhan para atlet.

"Anak-anak pratama hanya mendapat ayam goreng, sementara taruna sudah mendapat ayam masih ada daging (sapi), ini pasti kurang untuk atlet. Tolong dicek kateringnya, kalau memang kurang bagus diganti saja," ujar Sabar Yudo kepada anak buahnya, setelah memeriksa menu makan siang.

Siang itu, selain ayam goreng tepung, menu makan para pebulutangkis adalah, tahu goreng, rolade daging dengan sayuran ditambah sup bihun dan kerupuk serta teh manis dan pisang. 

Masalah makan, diakui sejumlah atlet memang menjadi keluhan utama mereka.  "Menunya kurang  bervariasi, bosan itu itu saja. Masalah itu sudah kami keluhkan berkali-kali," kata Claudia Ayu Wijaya, pebulutangkis yang pernah memperkuat tim Indonesia pada Women Islamic Games 2005 di Iran.

Wenny justru bersyukur karena makanan mereka tidak lagi disediakan dapur Akmil. Saking kerasnya nasi yang ia makan pada pekan pertama di Magelang, gadis asal Semarang itu mengaku tidak bisa buang air besar selama lima hari pertama di sana.

"Sudah nasinya keras, makannya harus buru-buru karena waktunya terbatas. Makannya langsung ditelan-telan begitu saja, dicampur air minum," kata Wenny yang sekarang sudah terbiasa makan cepat ala taruna.

Aturan remeh-temeh
Itu baru soal makan. Banyak hal lain yang sempat membuat pebulutangkis-pebulutangkis muda itu "shock" ketika baru memasuki pembinaan ala militer yang rencananya akan mereka jalani selama enam bulan.

"’Amazing’, awal-awalnya terkejut karena tidak terbayangkan sampai hal-hal kecil pun diatur, tetapi sekarang sudah terbiasa," ujar Bellaetrix Manuputty pemain tunggal putri yang pernah menghuni pelatnas Cipayung.

Yang Bella maksud hal-hal kecil tentulah masalah melipat pakaian yang tidak bisa sembarangan --meski tanpa setrika, baju tetap harus terlipat rapi dengan ukuran lipatan tertentu--, meletakkan perlengkapan kosmetik yang harus berderetan, memasang seprei tempat tidur yang harus ketat tanpa kerutan, dan melipat selimut hingga meletakkan handuk setelah mandi.

Gara-gara teledor meletakkan handuknya, pemain tunggal putri Tikeu Arieda harus mengikat kepalanya dengan handuk tersebut saat mengikuti apel pagi. Apel sehari tiga kali --pagi, siang dan malam-- adalah salah satu kegiataan rutin mereka di luar latihan.

Demi kerapian kamarnya, Tikeu, Bella, dan Siti Anida yang menghuni satu kamar, sepakat memilih untuk tidur di sofa atau di lantai --jika ada kesempatan tidur siang-- daripada harus kembali merapikan seprei.

"Bisa tidur sepuluh menit saja sudah bagus, karena di sini kegiatannya padat sekali. Waktu istirahat siang biasanya dimanfaatkan untuk mencuci, karena kami harus mencuci sendiri pakaian kami," tambah Bella.

Jika dibanding dengan Pelatnas utama di Cipayung, kegiatan Pelatnas pratama di Magelang memang sangat padat. Mereka harus bangun pukul 04.30 WIB untuk bersiap mengikuti senam pagi pukul 05.00 WIB selama kurang lebih setengah jam, dilanjutkan dengan mandi pagi dan beres-beres kamar.

Mereka sarapan pukul 06.00 WIB untuk selanjutnya mengikuti apel pagi setengah jam kemudian dan latihan pukul 08.00-12.00 WIB diikuti apel dan makan siang sebelum waktu istirahat yang lebih sering mereka manfaatkan untuk mencuci pakaian.

Pukul 15.00-18.00 WIB mereka kembali berlatih sebelum waktu makan malam, apel malam dan menghentikan segala kegiatan pada pukul 22.00 WIB untuk tidur. Semua jadwal itu mengandung konsekuensi hukuman push-up, lari atau hukuman lain, jika dilanggar atau terjadi kesalahan.

Segala kegiatan yang padat itu, ditambah pembatasan menggunaan telepon seluler, internet dan sarana komunikasi lain, bisa dipastikan membuat atlet-atlet itu akan hanya fokus pada latihan.

Dengan fasilitas latihan fisik di Stadion Sapta Marga, GOR Sudarto, Kolam Renang Tendean, dan fitness center, serta latihan teknik dan taktis di GOR Soeroto, mereka dapat melakukan latihan secara memadai meskipun hanya terdapat lima lapangan bulutangkis di sana.

Satu-satunya yang mereka keluhkan adalah kurangnya lawan latih tanding yang kemampuannya lebih tinggi dari mereka seperti para senior di Cipayung.

Dengan tujuan itu pula, ditambah keinginan untuk meningkatkan disiplin para senior, ada rencana untuk membawa para senior itu hijrah sementara dari Cipayung ke Magelang.  "Setelah melihat hasil di sini positif  ada rencana untuk membawa atlet-atlet senior dari Pelatnas Cipayung ke sini. Tetapi mereka harus mengikuti aturan di sini," kata Sabar Yudo yang berharap program pelatihan seperti itu akan terus berkelanjutan.

"Mudah-mudahan bisa berlanjut karena  atlet bulutangkis atau atlet-atlet lain perlu disiplin agar semua menjadi teratur," katanya.

Sumber :
Ant