JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus meninggalnya bayi Siti Khoiyaroh di Surabaya yang tersiram air bakso saat penertiban oleh Satpol PP serta meninggalnya seorang PSK, Fifi, akibat razia yang dilakukan Satpol PP di Tangerang mengundang keprihatinan yang mendalam bagi puluhan anak jalanan, pengamen, dan mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan Seniman Jalan Jakarta (Senja). Dengan membawa boneka anak kecil yang dipocong dan puluhan poster mereka berjalan dari perempatan Grogol menuju depan kampus Trisakti, Jakarta Barat.
Menurut koordinator aksi, Hendry Anggoro, dua kasus ini merupakan sebuah bukti ketidakbecusan pemerintah dalam memberikan lapangan pekerjaan bagi rakyat. "Mereka hanya menjadi korban atas nama ketertiban dan keindahan. Mereka tidak mengerti begitu susahnya mendapatkan uang. Pemerintah terlalu arogan, ketidakmampuannya menyediakan pekerjaan, layanan kesehatan, dan pendidikan akhirnya menjadikan kami menjadi sasaran kambing hitam," jelasnya.
"Harusnya ada solusi buat kami, nasionalisasi industri yang memihak rakyat dan pemerataan pembangunan hingga ke daerah. Siapa yang mau kerja seperti ini, kalau ada yang lebih baik, kami pun mau. Saat ini kami pengin hidup layak. Pemerintah bisa tidak memberikan," tuntut Hendry.
..Trantib musuh rakyat...Bubarkan sekarang juga. Sebaris kalimat yang dijadikan yel-yel untuk membakar semangat mereka dalam menghadapi panasnya matahari yang menyengat kulit. Aksi sempat memacetkan arus lalu lintas karena bahu jalan dipergunakan untuk melakukan aksi teatrikal yang menyimbolkan arogansi Satpol PP terhadap mereka.
