Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 23:15 WIB
Hubungan Badan Dilakukan Tiap Ganti Pacar
IGN sawabi | Jumat, 22 Mei 2009 | 14:31 WIB
|
Share:

MATARAM, KOMPAS.com — Psikolog di NTB, Drs H Syamsul Buhari, M Kes, PSsi, menilai bahwa perilaku seks bebas di kalangan remaja di NTB makin mengkhawatirkan. Mereka mudah melakukan hubungan seks tanpa ikatan pernikahan.
     
"Umumnya, remaja usia 15 tahun atau yang dikenal dengan sebutan ABG sampai mahasiswa semester awal yang berkonsultasi mengaku pernah berhubungan intim dengan pacarnya," kata Psikolog Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPP dan KB) NTB itu di Mataram, Jumat (22/5). Bahkan, ia melanjutkan, ada yang setiap kali ganti pacar selalu berhubungan seks.
     
Menurut dia, perilaku seks bebas yang marak di kalangan remaja ini diketahui dari para remaja yang melakukan konsultasi tentang seks bebas ke Pusat Informasi dan Konseling Keluarga (Pika) BPP dan KB NTB, melalui telepon genggam.
     
Kondisi ini, katanya, terjadi sebagai dampak dari sebuah kemajuan di bidang teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi. Para remaja tidak mampu memilah, mana infomasi yang baik, dan mana informasi yang bisa berdampak negatif terhadap perkembangan perilakunya.
     
Para remaja begitu mudah mengakses informasi melalui televisi dan media internet yang sekarang ini sudah bisa diakses hanya melalui telepon genggam tanpa ada yang mengawasi dan membatasinya.
     
"Kalau di era 80-an, informasi sangat terbatas dan media televisi nasional hanya ada satu, tetapi sekarang ini media informasi sangat banyak, sementara di sisi lain, remaja belum mampu memilah informasi itu, apalagi informasi dari negara Barat selalu dianggap lebih baik," katanya.
     
Ia mengatakan, anak usia remaja yang sering mengakses informasi yang tidak sesuai dengan perkembangan usianya rentan melakukan hubungan seks dengan pasangannya. "Awalnya, remaja laki-laki dan perempuan berkenalan, selanjutnya mereka mengarah pada ikrar berpacaran. Nah, di situlah awalnya mereka berani pegang tangan, cium pipi, kemudian berlanjut pada hubungan seks tanpa takut dengan risiko terjadinya kehamilan di luar nikah," katanya.
     
Para remaja yang sudah melakukan konsultasi ke Pika semuanya ingin keluar dari perilaku yang menyesatkan tersebut, tetapi tidak mengerti bagaimana jalan keluarnya. Kebingungan mereka itu disebabkan oleh lemahnya pemahaman tentang agama dan kurangnya komunikasi di dalam sebuah rumah tangga.
     
Menurutnya, upaya yang harus dilakukan agar para remaja bisa memanfaatkan kemajuan dunia teknologi informasi dan transportasi untuk hal-hal positif yang bisa membantu mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik, yaitu meningkatkan peran orangtua di rumah dan peran tokoh agama.
     
Para tokoh agama harus mengubah pandangan masyarakat yang hanya tahu tentang neraka ada di akhirat saja padahal neraka juga ada di dunia, yaitu berupa hukuman atau azab yang diturunkan oleh Allah SWT dalam berbagai bentuk.
     
"Neraka dunia itu bisa berupa pengusiran secara paksa dari rumahnya terhadap pelaku seks bebas, bisa cita-citanya tidak tercapai, bisa meninggal dunia pada saat berhubungan seks, atau bahkan bisa gila ditinggal pacarnya yang sudah menggaulinya," katanya.

Sumber :
Ant