Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 07:27 WIB
Esok Malam Terakhir
Achmad Subechi | Selasa, 19 Mei 2009 | 11:53 WIB
|
Share:
DOK/KELUARGA DINI KUSMANA
Beginilah suasana di Alun-alun Moulay Idriss, Maroko.
Foto:

TERKAIT:

KOMPAS.com — Maroko telah membuat hati Dini Kusmana Massabuaupenulis Citizen Journalism Tribun Kaltimdan suaminya terpaut. Sayangnya, waktu tak bisa diajak kompromi. Esok malam merupakan malam terakhir buat mereka berdua. Berikut kisah perjalanan Dini. 

AKHIRNYA kedua kakak beradik itu mengantarkan kami hingga ke Kota Meknes. Sesuai rencana, dari Moulay Indriss, kami ingin sekali lagi mampir ke pasar bumbu yang cukup terkenal. Dulu, kami pernah bertandang ke pasar itu. Sayangnya sudah tutup. Dalam perjalanan, Lala, adik Zohra, meminta kami singah ke rumahnya di Fes dan makan malam bersama sebelum kami kembali ke Perancis. Dengan berat hati kami menolak tawaran baik itu.

Alasannya, kami telah membayar tempat penginapan full hingga akhir keberangkatan kami. Selain itu, penginapan kami berada dekat pintu masuk Medina. Dengan begitu, kami bisa leluasa mengunjungi berbagai tempat. Sebenarnya kami tak ingin terlalu mengganggu mereka karena keduanya sehari-hari bekerja.

Persoalan lain, mereka menetap di kota baru. Hal itu menyulitkan kami bergerak ke mana-mana. Agar tak tersingung, akhirnya kami berjanji akan datang ke rumah mereka untuk makan malam bersama pada malam terakhir kami di Maroko. Setelah saling berpelukan dan mengucapkan selamat jalan, kami berpisah di Meknes. Saat itu sudah waktunya untuk makan siang. Kami lalu bergerak ke sebuah restoran yang biasa dijadikan tempat mangkal para turis. Ada beberapa restoran yang tertera di buku guide kami, ternyata sudah tutup.

Makanan yang kami makan terasa tidak begitu lezat. Ketika membayar, ternyata kami dikerjain. Lauk yang kami makan disertai dengan kentang gorengseperti yang tertera dalam fototernyata harganya terpisah alias sendiri-sendiri. Kami sangat kesal. Bukan soal duitnya. Tetapi, ada ketidakjujuran di benak mereka. Ada kemungkinan mereka sengaja menjerat para turis yang melancong ke Maroko.

Agar pengalaman jelek itu segera terlupakan, kami segera menuju ke Pasar Meknes. Benar saja, berbagai bumbu yang berwarna-warni dan harum membuat hati kami menjadi senang. Apalagi di dalam pasar juga dijajakan kue-kue khas Maroko, kacang-kacangan, buah kering, dan zaitun dengan berbagai macam rasa.

Pantas saja kalau pasar itu begitu terkenal. Selain bersih, penataan di setiap kiosnya sangat menawan. Kami berdua membeli bumbu tajine. Tajine menjadi satu masakan kegemaran kami di rumah, apalagi dalam jamuan makan bersama para tamu. Anehnya, bumbu yang terdapat di pasar ini warna dan harumnya sangat berbeda dengan yang kami beli di Perancis.

Kami juga membeli safran, yang berasal dari bunga crocus yang langka. Selain susah menanamnya, bunga ini dipetik hanya dengan menggunakan jari. Karena itulah harganya mahal. Safran biasa dipakai sebagai pengharum masakan, termasuk nasi. Berbagai kacang-kacangan juga kami beli. Sang penjual menghadiahkan kami sebuah pewangi khas Maroko bernama musc, wewangian yang berasal dari lemak chevrotin atau dalam bahasa Indonesianya kancil. Kado itu kami terima dengan senang hati.

***

SETELAH berpuas hati di dalam pasar, suami saya mengajak mengunjungi gudang penyimpanan biji-bijian yang dibangun oleh Moulay Ismail. Katanya, gudang ini sangat luar biasa. Selain memiliki tembok besar dan tebal, juga merupakan monumen bersejarah yang terkenal di Meknes. Sayangnya ketika kami sampai di sana, gudang itu tutup, dalam tahap renovasi. Setelah menghadap Allah (shalat), kami berdua memutuskan secepatnya kembali ke Fes dengan kereta. Hari itu, fisik kami benar-benar lelah. Kereta yang membawa kami pulang kali ini tepat waktu. Pukul 17.00, kami sudah berada di riad (tempat penginapan). Sesampainya di riad, kali pertama yang kami lakukan adalah mandi. Bayangkan saja selama dua hari kami tidak membanjur diri secara benar karena udara di Moulay Idriss begitu dingin. Airnya saja nyaris seperti es. Karena itu kami selalu membasuh tubuh dengan kain basah.

Bathup di riad saya isi dengan air lumayan panas untuk merenggangkan otot-otot yang kencang. Begitu badan terendam air, wow rasanya jiwa menjadi membaik kembali. Selepas mandi, kami berdua duduk agak berlama-lama. Esok adalah malam terakhir kami di sini. Malam itu waktu dihabiskan berdua dengan suami. Rencana makan malam bersama Keluarga Hannaoui terpaksa kami batalkan. Ada rasa tak enak yang menyodok hati kami, tapi esok malam kami merasa perlu menghabiskan bulan madu ini hanya berdua.... (*)

Sumber :
Tribun Kaltim