Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 11:45 WIB
Pindah ke "Ladang Tebu", Korban Lapindo Kesulitan Air dan Listrik
Aris Prasetyo | Minggu, 17 Mei 2009 | 15:06 WIB
|
Share:

SURYA/SUGIHARTO
Warga korban luapan lumpur Lapindo, melakukan istighotsah di atas tanggul Desa Siring, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Mereka berdoa agar sembuaran lumpur segera berhenti dan sisa pembayaran ganti rugi segera dibayar.

TERKAIT:

SIDOARJO, KOMPAS.com - Pengungsi korban lumpur Lapido dari Pasar Porong Baru, yang kini pindah ke lahan relokasi di Desa Kedung Solo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, kesulitan mendapatkan faslitas air bersih dan listrik. Di lahan relokasi bekas ladang tebu seluas 10 hektar tersebut, belum terdapat fasilitas air bersih dan listrik. Sekitar 350 orang pengungsi mulai menempati lahan relokasi itu sejak Jumat (15/5).

Di lahan relokasi tersebut, pengungsi mendirikan 80 barak darurat berdinding tripleks dan beratap asbes. Rencananya, mereka akan mendirikan 140 unit barak darurat berukuran 3 meter x 5 meter. Barak tersebut dibangun untuk warga korban lumpur yang belum mem iliki rumah kontrakan.  

"Kami masih membuat sumur untuk mendapatkan air bersih. Untuk keperluan penerangan, kami akan menyewa genset karena bila memasang jaringan listrik baru dari PLN perlu biaya besar," ucap Pitanto (47), koordinator pengungsi, Minggu (17/5) di Sidoarjo.

Pengungsi korban lumpur di Pasar Porong Baru membeli lahan relokasi tersebut pada 19 Maret 2009 dari Pabrik Gula Kremboong. Harga tanah yang dibeli pengungsi berkisar antara Rp 75.000 hingga Rp 115.000 meter per segi. Tanaman tebu yang berada di lahan relokasi sudah ditebangi seluas lima hektar.

Para pengungsi keluar dari Pasar Porong Baru yang mereka huni sejak November 2006 setelah menerima uang muka ganti rugi 20 persen dari Lapindo. Sedianya, pengungsi akan keluar dari pasar pada akhir April 2009 lalu. Namun, karena masih ada beberapa anak-anak di pasar tengah mengikuti ujian sekolah, rencana kepindahan ditunda hingga pertengahan Mei 2009.