Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 11:39 WIB
Air Mancur Bertuah...
Achmad Subechi | Sabtu, 16 Mei 2009 | 02:55 WIB
|
Share:

DOK/KELUARGA DINI KUSMANA
Air mancur di Mushala Moulay Ismail.

TERKAIT:

DARI Kota Meknes, penulis Citizen Journalism Tribun Kaltim Dini Kusmana Massabuau, akan melanjutkan perjalanan ke Kota Moulay Idriss. Lagi-lagi ia sebel dengan sistem taksi di Maroko yang main borongan. Berikut cacatan perjalanannya.

HARI Jumat, semua toko dan pasar di Meknes terlihat tutup. Suasana jalanan menjadi lenggang. Di alun-alun Meknes, kami menyempatkan diri mengisi perut. Kali ini kami berdua makan di tempat nongkrongnya para turis. Makanan yang disajikan enak, saya tak terlalu spesial seperti yang biasa kami makan.

Setelah itu perjalan kami lanjutkan ke Medersa (madrasah). Gedungnya sangat elok, lengkap dengan ornamen berupa ukiran kayu. Lalu kami melihat Museum Dar Jamai. Museum ini mengoleksi berbagai macam barang peninggalan antik, peninggalan masa silam, khususnya pakaian adat tradisional, senjata dan kain tenun nan elok.

Tempat lain yang kami datangi adalah kembali ke Mushala Moulay Ismail. Kali ini kami bisa masuk ke dalam mushala tanpa ada hambatan. Ada sesuatu yang menarik perhatian mata saya. Kerumunan manusia terlihat di sekitar pintu masuk. Ada dua air mancur, dan warga setempat beramai-ramai meminum airnya. 

Konon, air mancur itu bila diminum akan membawa berkah atau kebaikan.  Sebelum masuk mushala, semua alas kaki harus dilepas. Lagi-lagi saya deg-degan takut kemalingan. Bangunan mushala itu begitu indah, ditambah ukiran yang mempesona. Didekor dengan empat warna sebagai ciri khas empat kota di Maroko. Biru (Fes), hijau melambangkan Meknes, merah Marrakech dan kuning lambang Ibu Kota Maroko, Rabat. Mozaik tersusun begitu memukau mata, langit-langit dari bangunan membuat decak kagum bagi yang melihatnya.

Usai berkeliling, akhirnya kami memutuskan kembali ke Fes. Selain tempat menginap tidak kami temukan, besok siang kami akan pindah ke Kota Moulay Idriss, untuk dua malam. Dan saat kembali lagi dari Moulay Idriss ke Fes, kami berencana akan mampir lagi ke Meknes, mengunjungi pasar bumbu.


Sampai di stasiun, kereta yang akan kami tumpangi terlambat hingga satu jam. Hari itu, benar-benar melelahkan. Saya sendiri merasa tidak terlalu nyaman berada di Kota Meknes. Entah mengapa, tapi rasanya ingin cepat-cepat kembali ke Fes.  Sesampainya di Fes, masalah muncul kembali. Hampir satu jam kami sibuk melakukan negosiasi dengan para sopir taksi yang mau membawa kami ke depan pintu gerbang dekat tempat penginapan. Sistim borongan membuat sakit kepala. Mau bilang apa lagi? Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam.

Tiba di Riad, badan rasanya mau meleleh. Rasa capeknya luar biasa. Belum lagi harus mencari makan malam. Sesuai anjuran Houssein --pengelola riad-- malam itu kami disarankan makan makanan khas Maroko. Namanya pastilla.
Pastilla adalah makanan andalusia, sejenis pastel besar yang berisi campuran daging dan sayur. Dan yang kami makan malam itu adalah campuran ayam dan sayuran. Paling terkenal adalah burung dara. Rasanya manis dan gurih. Satu pastilla, bisa dimakan buat berdua.

Dari teras restoran, kami bisa melihat pemandangan di sepanjang lorong menuju pasar. Pedagang kaki lima dengan berbagai macam sajian makanan, cukup menarik perhatian kami. Pedagang telur rebus yang tak berhenti mengupas kulit telur, membuat kami tertawa geli karena orang Maroko makan malam dengan telur rebus yang dimasukan ke dalam roti bundar. Bagi kami, kebiasaan semacam itu rada aneh. Dan yang membuat saya merinding adalah ketika seorang pedagang datang dengan bekicotnya, lalu nongkrong tepat di bawah restoran dan menjadi pemandangan kami malam itu.
                                                                              ***
PUKUL 08.00 pagi, kami berdua sudah rapi. Siang ini kami berencana menginap di Moulay Idriss. Ketika berada di ruang sarapan, belum tersedia apa-apa. Bahkan, tak ada satu pun manusia. "Walah… ! Mungkin kita kepagian," kata saya. Suami saya mencari Housein dan melongok ke dalam dapur. Astaga, semuanya masih tertidur.

Mendengar suara berisik (sengaja juga), Houssein lalu keluar dari kamarnya. Senyumnya merekah, menghiasi bibirnya. "Assalamualaikum..." sapanya. Ucapan salam itu selalu ia lontarkan semenjak ia mengetahui kami berdua adalah muslim. Dan kata bonjour (selamat pagi hingga sore) tergantikan oleh salam. Houssein hanya mengurusi riad saja, sementara pemiliknya adalah warga negara Prancis yang tidak menetap di Maroko. Banyak sekali riad atau penginapan di Maroko yang dimiliki oleh bangsa asing, terutama Prancis. Situasi di Maroko mengingatkan saya tentang Bali. Tempat penginapan di Bali rata-rata dikelola orang asing dan bangsa kita hanya sebagai pekerja.

Kemarin malam, kami berdua meminta Houssein mencarikan seorang sopir, mengantarkan kami ke Moulay Idriss. Uang sebanyak 400 dirham adalah ongkos yang kami bayarkan. Berarti sekitar 40 euros untuk jarak tempuh 87 Km. Harga yang relatif normal, karena mobil yang akan membawa kami terbilang bagus dan sopirnya sudah kami kenal ketika menjemput kami di airport

Sebelum berangkat ke Moulay Idriss, kami ingin mengunjungi Museum Nejjarine. Museum yang tidak bisa kami lewatkan bila berkunjung ke Fes. Museum yang berada di areal Medina, menyimpan peninggalan sejarah berbagai hasil kerajinan kayu dan juga mesin pembuatannya. Museum itu tidak begitu besar. Memiliki keindahan bangunan luar biasa, detail dari ukiran kayu yang ditampilkan begitu mempesona.

Lantai atas museum dibuat sedemikian rupa, teras terbuka. Dari sana kita bisa melihat pemandangan Medina Fes yang begitu memukau. Begitu juga nuansa rumah-rumah pengrajin kulit. Tersedia juga cafe kecil. Teh mint  bisa dinikmati di atas teras. Saya pribadi merasa sangat senang berlama-lama di teras museum, lantaran pemandangan unik yang tersapu mata begitu menyentuh hati.

Satu hal yang perlu diingat, di setiap lantai disediakan kamar kecil yang bagus dan bersih. Ketika kembali ke riad, kami melewati kios-kios makanan yang menjual berbagai masakan panggang. Bau harum yang menggoda, membuat kami menghentikan langkah dan membeli satu setengah roti bundar yang diisi suwiran ayam panggang.

Padahal sebelumnya kami berencana makan siang di tempat tujuan Moulay Idriss. Tidak salah kalau saya memaksa suami membeli sandwich Maroko. Enaknya luar biasa. Harganya murah, hanya 20 dirham. Hampir 2 euros saja.
Ke Moulay Idriss kami hanya membawa tas kecil dan tas kamera untuk liputan. Selebihnya kami tinggalkan di riad, karena kami akan kembali lagi ke Fes dan tinggal di riad yang sama. Pemandangan dari Fes menuju Moulay Idriss begitu indah. Kami melewati danau yang berwarna hijau dan biru jernih. Semuanya begitu mempesona. Perkebunan zaitun yang tertata rapi, dan ada satu hal yang membuat saya berdecak kagum. Hamparan rumput di bukit-bukit yang berwarna-warni, bagaikan karpet. Pemandangan itu sangat indah, hingga melahirkan karpet bermotif ciri khas Maroko dan Berber. (*)

 

Sumber :
Tribun Kaltim