Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 18:26 WIB
KRI Diponegoro Berlatih dengan Standar NATO
Josephus Primus | Jumat, 15 Mei 2009 | 15:29 WIB
|
Share:

BEIRUT, KOMPAS.com — Kapal perang RI yang tergabung dalam Satuan Tugas Armada PBB (UNIFIL Maritime Task Force) di Lebanon, KRI Diponegoro-365, dengan komandan Letkol Laut (P) Arsyad Abdullah, sukses menjalani latihan bersama (latma) menggunakan standar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di laut teritorial Lebanon, Senin (11/5) lalu.
    
Duta Besar RI untuk Lebanon R Bagas Hapsoro kepada wartawan Antara, Rajab Ritonga, di Beirut, Jumat (15/5), mengatakan, latihan tersebut melibatkan dua kapal NATO, yakni kapal perang Belgia "Leopold I" dan kapal perang Yunani "Aitikos".
   
Latihan disaksikan Komandan UNIFIL Maritim Task Force (MTF) asal Belgia, Laksamana Muda Jean Thierry Pynoo yang berada di kapal Leopold I bersama Kepala Staf AL Libanon, Laksamana  Ali El-Moallem dan Duta Besar Bagas Hapsoro.
    
Menurut Bagas Hapsoro, latihan tersebut untuk menunjukkan kepada masyarakat Lebanon bahwa KRI Diponegoro yang baru bergabung dengan MTF 18 April lalu telah terintegrasi sepenuhnya dengan sistem MTF yang menggunakan standar NATO.
    
Dalam latihan tersebut, KRI Diponegoro yang diperkuat satu helikopter Bolkow BO-105, disimulasikan menyergap kapal asing—diperankan kapal Leopold I—yang diduga menyelundupkan senjata ke Lebanon. Helikopter BO-105 dikirim mengindentifikasi muatan kapal serta untuk memastikan tidak ada pasukan bersenjata di kapal itu.
   
KRI Diponegoro lalu mengirim dua regu pasukan katak dan marinir, diperkuat prajurit Angkatan Laut Lebanon dalam tiga perahu karet untuk memeriksa dan menggeledah kapal. Setelah menangkap tiga orang yang dicurigai, kapal asing tersebut digiring ke pelabuhan terdekat di Lebanon untuk diproses lebih lanjut.
   
Latihan bersama tersebut berlangsung dengan ketepatan waktu sesuai standar dan prosedur MTF yang mengadopsi standar NATO.
  
Menurut Hapsoro, kemampuan KRI Diponegoro telah membuktikan bahwa Indonesia sebagai negara non-Eropa mampu bekerja sama dengan negara-negara yang dianggap telah maju sistem pertahanannya.

Mencegah penyelundupan
    
Duta Besar Bagas Hapsoro mengutip Komandan KRI Diponegoro Letkol Laut Arsyad Abdullah mengatakan, tugas KRI Diponegoro dalam satuan tugas MTF adalah membantu Angkatan Laut Lebanon mengawasi dan mencegah penyelundupan senjata lewat wilayah laut Lebanon, berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
   
Selain itu, personel KRI Diponegoro juga bertugas memberi pelatihan bagi prajurit AL Lebanon dalam menjaga secara penuh perairan teritorial mereka.
    
Hingga saat ini misi pengawasan dan patroli MTF dinilai efektif dalam mencegah penyelundupan senjata sehingga kondisi Lebanon dan kawasan sekitarnya relatif stabil.
    
UNIFIL MTF merupakan operasi laut yang pertama kali diselenggarakan PBB di daerah konflik. Misi pengamanan laut itu dibentuk 15 Oktober 2006. Indonesia selain mengikutsertakan kapal perangnya, juga mengirimkan pasukan darat sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon.

Sumber :
Ant